“Berilah Aku Minum”
Keluaran 17:3-7
Mazmur 95:1.2.6.7.8.9
Roma 5:1-2,5-8
Yohanes 4:5-42
“Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimbah
air. Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum!”
(Yohanes 4:7)
***********************************
Beberapa abad yang lalu, hiduplah seorang
filsuf Jerman keturunan Yahudi bernama Moses Mendelssohn. Di cerdas yang penuh
kasih. Hanya satu kekurangannya: dia bungkuk. Namun dalam kesadaran akan dirinya
yang bungkuk inilah, dia jatuh cinta pada Gretchen, seorang wanita muda yang
cantik dan menarik, putri seorang bankir kaya.
Beberapa saat Mendelssohn menungguh. Pada
suatu saat, dia berani meminta izin kepada ayahnya, sang bankir kaya, untuk
menjumpai Gretchen dengan alasan bahwa dia ingin mengucapkan selamat tinggal
kepadanya. Sang ayah memberikan izin kepadanya.
Mendelssohn segera naik ke lantai dua dan
menjumpai gadis itu yang sedang sibuk menyulam. Selama percakapan di antara
mereka, Gretchen, wanita muda yang cantik dan menarik itu, tidak pernah
memandang wajah Mendelssohn.
Akhirnya, percakapan di antara mereka
berujung pada persoalan perkawinan. Gretchen bertanya kepada Mendelssohn:
“Apakah kamu percaya pada peribahasa lama yang mengatakan bahwa perkawinan itu
sudah ditakdirkan dari surga?
Mendelssohn menjawab, “Tentu, saya percaya!
Dan justru pada saat kita berbicara mengenai hal ini, saya ingin mengatakan
kepadamu bahwa ada kejadian luar biasa yang terjadi pada diri saya. Seperti
kita ketakui bersama bahwa bila ada
seorang anak laki-laki lahir, para Malaikat mengumumkan peristiwa itu agar semua orang bisa
mengetahuinya. Anak laki-laki kecil ini ditakdirkan untuk mendapatkan seorang
gadis sebagai istrinya. Hal ini sudah ditakdirkan dari atas sehingga tiada
seorang pun yang bisa mengubahnya. Maka, ketika saya lahir, para Malaikat
mengumumkan mengenai diri saya. Namun, kemudian mereka berhenti dan
menambahkan, ‘Tetapi sayang, bakal istri Mendelssohn akan bungkuk.’ Kemudian
saya berteriak di hadapan isi Surga, ‘Oh, Tuhan... Jangan! Seorang gadis yang
bungkuk akan sangat mudah tersiksa dan terluka batinnya, karena akan menjadi
sasaran gurauan banyak orang. Jangan, Tuhan! Gadis itu harus cantik. Tuhan,
saya mohon, biarlah saya saja yang bungkuk dan biarkan dia tetap cantik dan
bertubuh indah.”
Tahukah kamu, Gretchen? Allah mendengarkan
doa saya dan saya merasa gembira. Sayalah anak-laki-laki itu dan kamulah gadis
itu!
Sekarang, Gretchen melihat Mendelssohn
sebagai sosok laki-laki yang sama sekali berbeda. Akhirnya, dia pun menjadi
Istri Mendelssohn yang setia dan penuh kasih...
*********************
Kisah ini memperlihatkan kepada kita sisi perjumpaan yang
mempersatukan karena kekuatan batin-rohani yang dinyatakan dalam kesediaan dan
kerelaan Gretchen untuk menderita bagi Mendelssohn, seorang pria yang bertubuh
bungkuk. Kekuatan itu mengalir dari hatinya yang penuh cinta: di mana ada
cinta, di sana ada kesediaan untuk menerima dan memberikan diri demi
kebahagiaan pribadi yang dicintai.
Dalam Kitab Kejadian dilukiskan mengenai kisah perjumpaan
cinta antara Yakub dengan Rahel, calon istrinya dekat sumur. Dalam perjumpaan
itu, Yakub menyatakan isi cintanya dengan mengungkapkan kata-kata rayuan kepada
Rahel, bahkan menciumnya. Akhirnya, cinta manusiawi mempersatukan Yakub dan
Rachel.
Dalam Injil Yohanes dikisahkan bahwa dekat Sumur Yakub,
Yesus berjumpa dengan seorang perempuan. Sama seperti Mendelssohn dan Yakub
yang mendekati wanita pujaan mereka dengan kata-kata rayuan manusiawi, bahkan mencium
(Yakub mencium Rahel) karena gerakan cinta manusiawi yang menggelora dalam diri
mereka (gerakan cinta dari bawah, pria
dan wanita), Yesus juga mendekati wanita Samaria dengan kata-kata rayuan. Akan
tetapi, kata-kata Yesus adalah Rayuan Cinta Ilahi (gerakan
cinta dari atas, Allah dan manusia). Yesus berkata kepada wanita
itu, “Berilah Aku minum.” Ini adalah rayuan yang penuh kerendahan hati.
Rayuan Ilahi, rayuan kerendahan hati ini
bisa diartikan demikian, “Terimalah Aku, walaupun Aku seorang Asing bagimu.”
Mengapa diartikan demikian? Akarnya adalah: Yesus
sungguh-sungguh mengetahui bahwa yang merindukan air bukanlah Dia saja,
melainkan wanita itu juga. Perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria di
Sumur Yakub merupakan pengalaman rohani yang sangat dalam dan penuh makna.
Secara bertahap, wanita Samaria mengenal siapakah pria yang sedang berbicara
dengannya. Pada awalnya, dia menyapa pria itu sebagai orang Yahudi; kemudian
dia menyapa pria itu dengan Tuan, Nabi, Mesias-Kristus dan akhirnya mengalami-Nya
sebagai Sang Juruselamat dunia.
Di sumur Yakub
terjadi perjumpaan untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Yesus
merasa letih dan haus; wanita Samaria datang untuk menimbah air: letih mencari
perhentian versus datang mencari sumber; haus versus air, pria
versus wanita; orang Yahudi versus Samaria.
Sumur Yakub
adalah warisan nenek moyang Israel (Yakub). Warisan ini dimiliki oleh wanita
Samaria. Biasanya air sumur tidak mengalir, menggenang statis: sementara sumber
air itu mencakup sumur dan air yang mengalir. Wanita Samaria memiliki sumur dan
Yesus adalah Sumber Airnya. Awalnya, Yesus merasa haus dan meminta air. Namun,
kemudian, wanita Samaria yang menimbah air dan Yesus memberikan Air Kehidupan
kepadanya.
Ada sebuah
pertukaran kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan antara Yesus dengan wanta Samaria.
Yesus haus akan air karena berjalan kesiangan dan keletihan. Sementara wanita
Samaria merindukan adanya Sumber Air yang tidak akan pernah habis. Dia
merindukan air bagaikan tanah kering dan tandus merindukan air, bagaikan rusa
yang mendambakan air. Inilah sikap batin wanita Samaria: dia merindukan dan
menantikan Air Hidup.
Pada hari Jumat Agung, kerinduan Wanita Samaria ini
terpenuhi karena di Hari yang Agung ini, Yesus akan mengalirkan Air
Kehidupan kepadanya dan kepada semua umat manusia. Air Kehidupan itu mengalir
dari Lambung/Hati-Nya Tertikam. Air Kehidupan itu adalah Air Kasih.
Yesus tahu bahwa semua manusia merindukan-Nya sebab
Dialah Sang Kasih, Sumber Air Kasih bagi semua manusia. Walaupun demikian,
Yesus tidak pernah memaksakan setiap manusia untuk menerima Air Kasih-Nya dan
mengasihi-Nya. Dia menunggu setiap manusia untuk datang kepada-Nya: Yesus melebihi
Sumur Yakub sebab Dia adalah Sumber Air Kasih, Sumber Air Kesegaran, Kehidupan
dan Keselamatan yang tidak akan pernah mati.
Yesus sangat berbeda dengan para Nabi dahulu yang
cenderung memaksakan manusia untuk mencintai Allah dengan menyebut daftar dosa
manusia. Yesus mendekati semua manusia dengan rayuan Cinta Kasih-Nya, yaitu
Cinta Ilahi, Cinta yang Merangkul dan Mengampuni semua manusia; Cinta yang Rela
Membagi, Memberi dan Mengalirkan Sumber Air Kesegaran, Air Kehidupan dan Air Keselamatan
bagi semua dan setiap manusia yang bersedia menimbah Air Kesegaran, Air Kehidupan
dan Air Keselamatan yang mengalir dari Lambung/Hati-Nya yang Tertikam.
Hati Yesus yang Tertikam di Jumat Agung adalah Sumur yang
Mengalirkan Sumber Cinta yang Mengampuni dan Merangkul semua manusia yang
berdosa, sebagaimana Dia mengalirkan daya pengampunan-Nya kepada Wanita Samaria
yang memiliki enam orang suami yang sesungguhnya hanyalah selingkuhan, suami
simpanan-pelacuran (penyembahan berhala) karena dewa-dewa yang disembah wanita
itu dan orang Samaria umumnya adalah dewa-dewi asing.
Daya rangkul
dan pengampunan Yesus dinyatakan dalam penyataan diri-Nya sebagai mempelai
ketujuh (tujuh sebagai angka sempurna), yaitu sebagai suami yang sesungguhnya.
Kalau dihubungkan dengan penyembahan berhala orang Samaria, Yesus (ketujuh)
menjadi kesempuraan kultus atau penyembahan. Dia adalah Sang Mempelai yang
menjumpai pengantin-Nya di Sumur Yakub. Dia adalah Sang Mempelai yang
membiarkan Lambung/Hati-Nya Tertikam agar bisa mengalirkan Sumber Air
Kesegaran, Sumber Air Kehidupan dan Keselamatan bagi kita semua, pengantin-Nya.
Berkat
penyataan diri Yesus sebagai Sang Mempela dan Sang Sumber Air Kasih, maka perjumpaan
di Sumur Yakub berubah menjadi pewartaan. Dalam
perjumpaan itu, ada pemulihan hubungan antara mempelai wanita yang telah
melacurkan dirinya dengan dewa-dewi lain dengan Mempelainya yang sesungguhnya.
Akibat dari perjumpaan rohani ini adalah: wanita Samaria menjadi pewarta
pertama kepada kaumnya. Inilah pengalaman rohani yang berimplikasi pada
inisiatif untuk tugas pewartaan. Semua pengalaman rohani, pengalaman perjumpaan
dengan Tuhan harus diungkapkan dan diwartakan. Pengalaman bersama Tuhan
tidaklah egois-individualis, tetapi eklesial dan komunitaris.
Inilah
perbedaan antara perjumpaan antara Mendelssohn-Gretchen, Yakub-Rachel dengan perjumpaan
antara Yesus dengan wanita Samaria. Perjumpaan antara Mendelssohn-Gretchen,
Yakub-Rachel berujung pada persatuan antara kedua pribadi menjadi suami-istri;
sedangkan perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria berujung pada
pertobatan, pengakuan iman, persatuan dan pewartaan.
Yesus bekerja
dalam diri kita agar perjumpaan kita dengan-Nya, terutama dalam peristiwa Jumat
Agung, saat Tuhan memperlihatkan dan mengalirkan dari Lambung/Hati-Nya yang
Tertikam Sumber Air Kasih yang memberikan kesegaran, kehidupan dan
keselamatan bagi kita, kita pun diberdayakan untuk menjadi Pewarta Kasih yang
Mengampuni dan Merangkul semua manusia dalam Kasih-Nya...
Apakah kita
bersedia berjumpa dengan Yesus yang Lambung/Hati-Nya Tertikam dan membiarkan
Lambung/Hati-Nya yang Tertikam itu Terbuka agar kita bisa melihat dan mengalami
kedalaman dan kebesaran Cinta-Nya, yang menjadi Sumber Kesegaran, Kehidupan dan
Keselamatan bagi kita serta berusaha mewartakan-Nya sebagai Allah, Sang Cinta
yang Menyegarkan, Menghidupkan dan Menyelamatkan melalui perkataan dan
perbuatan kita?
Selamat
Bermenung....
Salam Kasih...
Buona Domenica....
Dio Ti Benedica...
Alfonsus Very Ara,
Pr

Posting Komentar
Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.