"Serahkanlah Perbuatanmu kepada Tuhan supaya Tercapailah Rencanamu" Amsal 16:3. (Rekoleksi Kaum Berjubah di Wilayah Dekanat Tapanuli )

 


"Serahkanlah Perbuatanmu kepada Tuhan supaya Tercapailah Rencanamu"  
Amsal 16:3.
 (Rekoleksi Kaum Berjubah di Wilayah Dekanat Tapanuli )

Kamis 19 Maret 2026, rekoleksi Kaum Berjubah Dekanat Tapanuli dengan tema "serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan supaya tercapailah rencanamu"  Amsal 16:3. Rekoleksi ini dipimpin oleh Komunitas Pastoran dan Susteran Paroki St. Ludovikus Sipeapea.. Rekoleksi dilaksanakan di Gereja St. Yosep Pandan. Peserta yang hadir 153 peserta dari kaum berjubah baik Imam, Bruder, Frater  dan Suster yang berkarya di wilayah Dekanat Tapanuli Keuskupan Sibolga.

 

Permenungan dalam rekoleksi, Pastor Pio Silalahi mengambil tema dari Amsal 16:3, "Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu." Bagi "kaum berjubah" ayat ini bukan sekadar motivasi keberhasilan, melainkan dasar hidup panggilan dalam pelayanan dan hidup sehari-hari. Bagi "Kaum Berjubah" istilah yang merujuk pada para pelayan Tuhan yakni Imam, Bruder, Frater dan Suster dimana mereka yang mengabdikan hidup dalam pelayanan.



Pastor Pio menegaskan bahwa ayat ini mengandung refleksi teologis yang mendalam mengenai otoritas, motivasi, dan penyerahan diri. Amsal 16:3 menegaskan bahwa rencana akan berhasil jika berpusat pada Tuhan. Kaum berjubah dipanggil untuk menjaga motivasi hati melayani karena kasih kepada Tuhan, bukan demi pengakuan, popularitas, atau kenyamanan pribadi.

Kata "terlaksanalah" dalam ayat ini tidak selalu berarti rencana kita berhasil menurut standar duniawi tetapi berhasil menurut kehendak Tuhan. Menyerahkan perbuatan mencakup ketekunan dan kejujuran dalam perkara-perkara kecil. Pelayanan bukan sekadar khotbah di mimbar, melainkan gaya hidup sehari-hari yang memuliakan Tuhan.

Dalam Permenungannya, Pastor Pio Silalahi OFMCap. Memberikan permenungan dan beberapa poin untuk direnungkan sebagai berikut:

1. Penyerahan diri secara total bagi Allah

            Bagi mereka yang berada dalam posisi kepemimpinan spiritual, ada godaan besar untuk merasa bahwa keberhasilan pelayanan adalah hasil dari kepintaran berkhotbah atau manajemen gereja yang hebat.  Kaum berjubah dipanggil untuk melepaskan kendali mutlak atas hasil pelayanan dan mengaku bahwa Tuhanlah penggerak sejati di balik setiap rencana. 

2. Mengenal panggilan bersumber dari kehendak Allah

Amsal 16:2 yang mendahului ayat ini mengingatkan bahwa "Tuhanlah yang menguji hati".  Jubah yang dipakai adalah simbol kekudusan, namun motivasi di balik pelayanan harus selalu dimurnikan. Rencana yang terlaksana bukan berarti setiap keinginan manusiawi dikabulkan, melainkan bahwa rencana yang selaras dengan kehendak Allah akan ditegakkan oleh-Nya. Kaum berjubah harus memastikan bahwa rencana mereka bukanlah ambisi pribadi yang dibungkus dengan bahasa rohani. 

3. Bertanggung jawab dalam karya sebagai lanjutan Karya Allah bagi sesama.

Menyerahkan perbuatan bukan berarti menjadi pasif atau abai terhadap tugas pastoral. Kaum berjubah dipanggil untuk merencanakan dengan hikmat dan bekerja dengan tekun, namun tetap menaruh seluruh kepercayaan pada kedaulatan Tuhan. Keberhasilan tersebut harus berjalan di bawah pimpinan Roh Kudus. 

4. Menghadirkan sikap Kerendahan Hati sebagai dasar hidup dalam panggilan.

Dalam pelayanan, tidak jarang rencana mengalami tantangan atau tampak gagal secara manusiawi. Dengan menyerahkan segala perbuatan kepada Tuhan, kaum berjubah belajar untuk tidak menjadi sombong saat berhasil dan tidak putus asa saat menghadapi hambatan.

            Kegiatan ini juga diakhiri dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga. Dalam khobah, Bapa uskup menegaskan bahwa menjadi orang terpanggil berarti siap menyerahkan hidup secara total hanya pada kehendak Allah, sebagaimana dalam perayaan St. Yosep yang dirayakan pada 19 maret, dimana totalitas hidup Yosep yang bersedia menjadi penjaga keluarga Nazareth menjadi cerminan tanggungjawab penuh pada tugas keberlanjutan karya keselamatan dari Allah. KIta Kaum Berjubah belajar dan siap meneladani apa yang dihidup oleh St. Yosep yakni tidak menolak tetapi menerima apa yang diinginkan oleh Tuhan.

Bapa Uskup juga menghimbau untuk Kaum Berjubah yang hadir, bahwa harus mampu memulai dari diri sendiri dalam menanggapi panggilan Tuhan, kemudian dilanjutkan dalam komunitas hinggga melaksanakannya dalam karya masing masing untuk menghidupkan spiritualitas iman dalam diri umat beriman. Bapa Uskup juga, meminta agar dalam karya harus percaya bahwa semua selaras dengan karya dan kehendak Tuhan demi kebahagiaan umat beriman.

Kaum Berjubah memiliki kesempatan besar untuk dapat mewujudnyatakan kehendak Tuhan yakni menhadirkan kebahagiaan dan sukacita ditengah tengah umat yang merindukan Kehadirah Tuhan yang nyata. Bapa Uskup juga berterima kasih atas partisipasi dan kehadiran Kaum Berjubah ditengah masyarakat saat bencana alam yang lalu, karena bersedia hadir dan ikut berpastisipasi dalam membantu pemerintah saat penaggulangan bencana alam, semoga tetap setia hadir sebagai saudara bagi umat yang membutuhkan dan utamanya pada proses pemulihan bencana alam ini, tetap hadir dan menolong agar cepat terpulihkan.













Posting Komentar

Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget