Minggu Paskah III, (Romo Very Ara) 19 Maret 2026 “Lamban Mengerti” Lukas 24:13-35
Minggu Paskah III, 19 Maret 2026
“Lamban Mengerti”
Lukas 24:13-35
Mendengar dan Mengerti Gaya Monyet
Pada suatu hari, Sang Pangeran Raja dan Permaisurinya
bertamasya di taman kerajaan yang indah tanpa pengawalan prajurit kerajaan.
Mereka hanya ditemani oleh seekor monyet jantan besar peliharaan yang didik dan
akhirnya bertabiat seperti manusia. Monyet itu sangat di sayangi oleh Sang
Pangeran karena cerdas, taat dan bersahabat.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, tersilir
angin sepoi-sepoi basah yang meyerbakkan harum bunga di taman, Sang Pangeran
pun terkantuk. Sang Pangeran ingin memulaskan rasa kantuknya dengan
membaringkan badan bersama istrinya di sebuah pemondokan kerajaan di taman itu.
Sebelemu tertidur, sang pangeran berpesan kepada monyet kesayangannya,
“Berjagalah di saat kami tidur. Persenjantailah dirimu dengan pedang ini;
jangan biarkan apa dan siapa pun mengganggu ketenangan tidur kami. Lawan dan
bunuh, apa dan siapa saja jika dianggap mengganggu dan mengancam keselamatan
kami!
Setelah menerima pesan dari Sang Pangeran, Sang Pangeran
pun tertidur pulas bersama istrinya. Tidak lama berselang, datang sepasang
lalat hijau: jantan dan betina, hinggap persis di batang leher Sang Pangeran
dan istrinya: Lalat jantan di batang leher Sang Permaisuri; sedangkan lalat
betina di batang leher Sang Pangeran.
Melihat ulah kedua lalat yang mengorek dan mengganggu
ketenangn Sang Pangeran dan Permaisuri, monyet itu pun teringat akan pesan Sang
Pangeran, ““Berjagalah di saat kami tidur.; jangan biarkan apa dan siapa pun
mengganggu ketenangan tidur kami. Lawan dan bunuh, apa dan siapa saja jika
dianggap mengganggu dan mengancam keselamatan kami. Pergunakan pedang ini jika
perlu!
Tanpa berpikir panjang, monyet itu pun mengangkap pedang
untuk membabat kedua lalat yang hinggap di batang leher Sang Pangeran dan
Permaisurinya. Lalat mati, kedua batang leher pun terbabat. Sang Pangeran dan
Permaisuri, dalam sekejap tidak bernyawa!
Sepandai-pandainnya seekor monyet, tetaplah monyet tidak akan pernah
menjadi manusia, walaupun bisa bertabiat seperti manusia. Seekor monyet bisa
menuruti perintah manusia, namun tidak akan pernah mendengar, mengerti, dan
mencerna isi perintah manusia. Akhirnya, Sang Pangeran dan Permaisurinya wafat
karena ulah si monyet yang tidak mengerti dan mencerna isi perintah yang
sebenarnya.
Lamban Mengerti
Sudah sekian lama
para murid berada bersama Yesus. Mereka mendengarkan pengajaran Yesus mengenai
isi Kitab Suci berkenaan dengan kematian keji yang dialami-Nya di kayu salib
dan kebangkitan-Nya sesudah kematian, namun hati mereka begitu lamban untuk
mengerti dan memahami arti perkataan Yesus itu. Hal ini tampak dalam
keragu-raguan dan ketidakpercayaan para murid tatkala Yesus yang Bangkit
“menjumpai” mereka.
Untuk membuka
hati dan pikiran mereka agar bisa memahami nubuat Kitab Suci Perjanjian Lama
dan nubuat-Nya sendiri berkenaan dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus
mulai memperlihatkan Tubuh-Nya yang Terluka (tangan kaki akibat tusukan paku
dan lambung akibat tusukan tombak) serta mengundang mereka untuk menatap-Nya
dengan cermat supaya mereka bisa mengambil kesimpulan yang tepat. “Lihatlah
tangan-Ku dan kaki-Ku, Aku sendirilah ini. Rabalah Aku dan lihatlah. Karena
hantu tidak ada daging dan tulangnya seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.”
Yesus tidak mau kalau diri-Nya yang baru Bangkit dari alam maut dikatakan
hantu; Dia mau para murid tetap melihat diri-Nya sebagai manusia utuh yang
berdaging dan berdarah. Persoalannya, Thomas, salah seorang Rasul-Nya tidak
percaya kalau dia sendiri tidak melihat dan mencucukkan jarinya ke dalam luka
belas paku dan tusukan tombak.
Hal yang sama
terjadi ketika Yesus yang Bangkit datang menjumpai mereka di tepi danau. Mereka
tidak mengerti dan tidak percaya akan anugerah yang turun atas diri mereka pada
saat itu. Tidak! Mereka tidak percaya, walaupun mereka merasa girang dan heran,
sebab rasa girang belum tentu bernilai bagi iman.
Untuk membantu para
murid-Nya yang sedang kacau pemikiran mereka, Yesus berusaha meyakinkan mereka
dengan mengambil sepotong ikan goreng dan memakannya di depan mata mereka.
Yesus rela merendahkan diri dengan berbuat apa saja agar para murid-Nya
mengerti, percaya dan yakin akan realitas kehadiran dan kebangkitan-Nya.
Walaupun sudah bangkit dan tidak membutuhkan ikan goreng, Yesus bersedia makan,
asalkan para murid dan kita semua memasuki jalan iman untuk menerima dan
percaya akan realitas kebangkitan yang dialami-Nya.
Kini, Yesus
tampaknya tidak berdaya; Yesus sepertinya menemukan jalan buntu untuk
meyakinkan kedua murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Ketika jalan
peyakinan diri akan realitas kebangkitan-Nya dengan penampilan fisik-Nya
menemukan jalan buntu, Yesus berusaha membuka pikiran mereka dengan menggunakan
dasar-dasar yang diambil dari Kitab Suci sendiri sehingga mereka mengerti dan
memahami isi Kitab Suci itu sendiri, terutama nubuat tentang kematian dan
kebangkitan-Nya yang semuanya sudah tersedia di dalam Kitab Suci.
Yang patut
dipertanyakan, “Mengapa kedua murid dan terutama kedua yang sedang menuju Emaus
lamban untuk mengerti dan memahami isi nubuat Kitab Suci mengenai kematian dan
kebangkitan Yesus?
Pertama, mereka
lamban mengerti atau tidak mengerti nubuat Perjanjian Lama serta Sabda Yesus
dan nubuat-Nya mengenai kematian dan kebangkitan-Nya karena hati dan pikiran
mereka saat itu hanya tertuju pada kubur. Yesus, Sang Guru mati di
salib dan dikuburkan. Perjalanan kehidupan dan karya Yesus sudah berakhir di
salib dan di kubur-Nya; Semuanya sudah selesai. Mereka tidak seperti Yohanes
Rasul yang melihat kubur Yesus dan percaya: Dia melihat kubur kosong dan
percaya bahwa Yesus bangkit, seperti yang sudah dinubuatkan-Nya. Mereka tidak
percaya bahwa Tuhan yang Wafat dan Dimakamkan Bangkit dan Hidup.
Kedua, mereka
juga lamban mengerti, tidak mengerti mengenai nubuat Perjanjian Lama dan nubuat
Yesus sendiri mengenai kematian dan kebangkitan-Nya, bahkan tidak mengenal
Yesus yang Bangkit sedang berada bersama dan menemani perjalanan mereka karena
mata dan hati mereka atau penglihatan mereka dihalangi/ditutupi oleh cita-cita,
keinginan, harapan dan mimpi mereka tatkala memutuskan untuk mengikuti Yesus. Mereka
mengikuti Yesus, Sang Guru karena ingin mendapat posisi di sisi kiri dan kanan
jika Yesus menjadi Raja Bangsa mereka. Namun, mimpi mereka sirnah karena Sang
Guru yang diikuti dan dikagumi ternyata mengalami kematian tragis di kayu salib
Ketiga, mereka
lamban mengerti, bahkan tidak mengerti nubuat Perjanjian Lama dan nubuat Yesus
sendiri mengenai kematian dan kebangkitan-Nya sebab selama mengikuti Yesus,
mereka mendengarkan ajaran Yesus sesuai dengan kepentingan mereka sendiri.
Mereka tahu bahwa sebagai murid, tugas mereka yang paling utama adalah
mendengarkan Sang Guru. Mereka mengerti bahwa “Percaya akan pemberitaan Kitab
Suci yang diperoleh dari pendengaran” merupakan dasar yang memungkinan mereka untuk
mengerti isi Kitab Suci dan memampukan mereka untuk melaksanakan tugas
kerasulan kepada sesama. Persoalannya, dalam mendengarkan pengajaran
Injil Yesus, mereka tidak membuka diri seutuhnya terhadap pelbagai informasi
yang terlontar dari mulut Yesus. Mereka tidak berani dan tidak bersikap
rendah hati dalam mendengarkan pengajaran Yesus. Hal ini terjadi karena di
dalam mendengarkan Yesus, mereka hanya menerima apa yang cocok dan berkenan
dengan pendirian mereka.
Patut diakui
bahwa kendati mereka dekat dengan Yesus, mereka tidak menerima dua kenyataan
yang tidak terpisahkan dari jatidiri Yesus sebagai Mesias, yaitu Yesus harus
menderita dan harus bangkit dari antara orang mati. Padahal iman yang benar
dan otentik akan penderitaan, kematian dan kebangkitan harus diterima sebagai
lingkaran yang utuh, tidak terpisahkan antara Jumat Agung dan Paskah
Kebangkitan; antara cinta, korban dan kemuliaan; antara kerja keras dan
keberhasilan. Tidak mungkin ada Paskah Kebangkitan, tanpa Jumat Agung. Karena
dasar iman inilah, maka Yesus yang Bangkit dan Hidup datang menjumpai mereka
dengan membawa serta luka di kedua tangan dan kaki-Nya serta luka di lambung-Nya.
Dengan memperlihatkan luka bekas paku dan tombak di tangan, kaki dan
lambung-Nya, Yesus menyatakan kepada mereka dan kita semua bahwa Dia yang
Bangkit dan Hidup, saat ini, di hadapan dan bersama mereka dan kita
adalah Dia yang dibunuh dan wafat di salib yang hina di Jumat Agung...
Bagi kita saat ini, perlu disadari bahwa:
Pertama, ada
di antara kita yang menjadi pengikut Yesus Kristus yang Bangkit karena memiliki
mimpi dan kepentingan tertentu yang ingin diperoleh dari Yesus. Kita pun merasa
kecewa ketika mimpi-mimpi kita tidak terpenuhi di saat kita bermohon
kepada-Nya. Kita tidak sadar dan tidak percaya bahwa setiap saat Yesus yang
Bangkit selalu mendekati kita....berjalan bersama kita... menjawab semua
keinginan dan harapan kita dengan cara-Nya. Dia yang Bangkit mendekati,
berjalan bersama dan memenuhi harapan kita dalam diri setiap pribadi yang
setiap saat bersama kita; berbagi cerita, berbagi rasa dan harapan.
Apakah mata kita terhalang untuk melihat kehadiran Dia yang Bangkit dalam diri
semua orang yang selalu bersama kita?
Kedua,
kita dituntut untuk
mendengar dan mengerti Sabda Yesus sesuai dengan Pikiran dan Kehendak Yesus,
bukan membaca dan menafsirkan-Nya sesuai dengan pikiran, keinginan dan
kepentingan kita. Jika kita
mendengar dan mengerti Sabda Yesus sesuai dengan keinginan dan kepentingan
kita, kita akan menjadi penganut HKBP (Seharusnya Huria Kristen Batak
Protestan, namun sering menjadi Huria Katolik Berbauh Protesta).
Karena itu, marilah kita membangun sikap mendengarkan yang benar, yang
memungkinkan kita mengerti dan memahami isi Kitab Suci tidak. Sikap yang tepat
dalam mendengarkan Sabda Yesus menuntut dari kita, bukan hanya kemauan untuk
mengosongkan diri sampai ke tingkat tertentu, melainkan juga berani membuka
diri untuk menerima segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera dan tidak
berkenan di hati kita. Kita mungkin cenderung mendengarkan sebagai guru, bukan
untuk belajar, melainkan untuk menguji orang lain. Salah satu sifat dari
seorang murid, hamba Allah, sebagaimana dikatakan Yesaya adalah mempertajam
pendengaran agar kita dapat mendengarkan suara Allah sebagai seorang Murid.
Kita memohonkan telinga seorang murid untuk mendengarkan Yesus yang berbicara
kepada kita.
Ketiga,
kita harus mencari
Yesus, bukan di Kubur, melainkan dalam Dunia Orang-orang yang Hidup. Yesus
Kristus adalah Sabda Kekal Allah yang Menjadi dan Hidup dalam Rupa Manusia dan
Tinggal di antara kita, manusia. Dia adalah Sang Hidup, sumber dan asal semua kehidupan dari semua ciptaan,
terutama manusia. Sabda Kekal Allah, Sang Hidup TIDAK AKAN PERNAH
MATI. Yang mengalami siksaan, penderitaan dan kematian di salib adalah
Tubuh Insani dari Sang Sabda Kekal yang mengenakan pada diri-Nya Daging Insani.
Tubuh Insani Yesus harus mengalami kematian sebagai wujud ketundukan-Nya
kepada hukum biologis dan jalan bagi-Nya untuk masuk ke dalam
dunia orang mati (tempat penantian) untuk memberikan Kesaksian
kepada jiwa-jiwa yang berada di tempat penantian bahwa semua jiwa yang
mendengarkan Sabda-Nya dan melakukan pekerjaan-Nya, walaupun memiliki kesalahan
dosa akan mengalami kebangkitan bersama-Nya. Dialah Jaminan Tunggal bagi
kebangkitan dan keselamatan jiwa-jiwa yang percaya kepada-Nya.
Membeo
Pendeta John mendapat kehormatan untuk melayani jemaat
di Sulawesi Utara (Manado) sebagai guru Sekolah Minggu. Di awal karyanya,
pendeta John bercerita tentang perjalanan kehidupan Yesus mulai dari peristiwa
kelahiran hingga kematian-Nya di kayu salib. Hanya sekilas saja pendeta John
menyinggung soal kebangkitan Yesus. Minggu berikutnya, pendeta John bermaksud
menguji daya ingatan anak Sekolah Minggunya dengan mengajukan beberapa
pertanyaan:
“Jadi, adik-adik…, Tuhan Yesus lahir di
Betlehen dan berbaring di dalam palu…?
“Ngannnnnn….,” jawab anak Sekolah Minggu
serempak.
“Betul, anak pintar! Ketika hidup di dunia
ini, Tuhan Yesus banyak membuat mukjizat seperti menyembuhkan orang sa….?”
“Kit…,” jawab anak-anak dengan nada yang
mantap dan keras.
“Wah, hebat. Ternyata kalian masih ingat
cerita Minggu yang lalu. Nah, sekarang…karena Yesus banyak melakukan mukjizat,
Tuhan Yesus disiksa, dipukuli, dicambuk dan akhirnya Tuhan Yesus mati. Namun
pada hari ketiga, Tuhan Yesus kemudian bang….bang….?
Semua Anak Sekolah Minggu tampak bingung
sebab cerita Minggu sebelumnya paparan mengenai kebangkitan Yesus hanya
disampaikan sepintas lalu. Mereka saling memandang, sampai akhirnya seorang anak
kecil mengacungkan tangan dan memberanikan diri untuk menjawab. Namun
sebelumnya, anak itu meminta pendeta John untuk mengulangi pertanyaannya,
“Sesudah Tuhan Yesus banyak melakukan mukjizat, Tuhan Yesus disiksa, dipukuli,
dicambuk dan akhirnya Tuhan Yesus mati. Namun pada hari ketiga, Tuhan Yesus
kemudian bang….bang….?
Anak itu spontan menjawab, “Bangka-bangka!!!!” (bangka-bangka artinya
bengkak-bengkak). Tidak jarang, kita hanya membeo dalam membaca Kitab Suci
sehingga kerap salah menafsir dan memahami pesan intinya.
Selamat
Bermenung....
Salam Kasih....
Buona Pasqua...
Dio Ti Benedica...
Alfonsus Very Ara,
Pr

.png)
.png)
