Keuskupan Sibolga

Latest Post

 


Minggu Paskah III, 19 Maret 2026

“Lamban Mengerti”

Lukas 24:13-35


 

Mendengar dan Mengerti Gaya Monyet

Pada suatu hari, Sang Pangeran Raja dan Permaisurinya bertamasya di taman kerajaan yang indah tanpa pengawalan prajurit kerajaan. Mereka hanya ditemani oleh seekor monyet jantan besar peliharaan yang didik dan akhirnya bertabiat seperti manusia. Monyet itu sangat di sayangi oleh Sang Pangeran karena cerdas, taat dan bersahabat.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, tersilir angin sepoi-sepoi basah yang meyerbakkan harum bunga di taman, Sang Pangeran pun terkantuk. Sang Pangeran ingin memulaskan rasa kantuknya dengan membaringkan badan bersama istrinya di sebuah pemondokan kerajaan di taman itu. Sebelemu tertidur, sang pangeran berpesan kepada monyet kesayangannya, “Berjagalah di saat kami tidur. Persenjantailah dirimu dengan pedang ini; jangan biarkan apa dan siapa pun mengganggu ketenangan tidur kami. Lawan dan bunuh, apa dan siapa saja jika dianggap mengganggu dan mengancam keselamatan kami!

Setelah menerima pesan dari Sang Pangeran, Sang Pangeran pun tertidur pulas bersama istrinya. Tidak lama berselang, datang sepasang lalat hijau: jantan dan betina, hinggap persis di batang leher Sang Pangeran dan istrinya: Lalat jantan di batang leher Sang Permaisuri; sedangkan lalat betina di batang leher Sang Pangeran.

Melihat ulah kedua lalat yang mengorek dan mengganggu ketenangn Sang Pangeran dan Permaisuri, monyet itu pun teringat akan pesan Sang Pangeran, ““Berjagalah di saat kami tidur.; jangan biarkan apa dan siapa pun mengganggu ketenangan tidur kami. Lawan dan bunuh, apa dan siapa saja jika dianggap mengganggu dan mengancam keselamatan kami. Pergunakan pedang ini jika perlu!

Tanpa berpikir panjang, monyet itu pun mengangkap pedang untuk membabat kedua lalat yang hinggap di batang leher Sang Pangeran dan Permaisurinya. Lalat mati, kedua batang leher pun terbabat. Sang Pangeran dan Permaisuri, dalam sekejap tidak bernyawa!

Sepandai-pandainnya seekor monyet, tetaplah monyet tidak akan pernah menjadi manusia, walaupun bisa bertabiat seperti manusia. Seekor monyet bisa menuruti perintah manusia, namun tidak akan pernah mendengar, mengerti, dan mencerna isi perintah manusia. Akhirnya, Sang Pangeran dan Permaisurinya wafat karena ulah si monyet yang tidak mengerti dan mencerna isi perintah yang sebenarnya.

 

Lamban Mengerti

Sudah sekian lama para murid berada bersama Yesus. Mereka mendengarkan pengajaran Yesus mengenai isi Kitab Suci berkenaan dengan kematian keji yang dialami-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya sesudah kematian, namun hati mereka begitu lamban untuk mengerti dan memahami arti perkataan Yesus itu. Hal ini tampak dalam keragu-raguan dan ketidakpercayaan para murid tatkala Yesus yang Bangkit “menjumpai” mereka.

Untuk membuka hati dan pikiran mereka agar bisa memahami nubuat Kitab Suci Perjanjian Lama dan nubuat-Nya sendiri berkenaan dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus mulai memperlihatkan Tubuh-Nya yang Terluka (tangan kaki akibat tusukan paku dan lambung akibat tusukan tombak) serta mengundang mereka untuk menatap-Nya dengan cermat supaya mereka bisa mengambil kesimpulan yang tepat. “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku, Aku sendirilah ini. Rabalah Aku dan lihatlah. Karena hantu tidak ada daging dan tulangnya seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Yesus tidak mau kalau diri-Nya yang baru Bangkit dari alam maut dikatakan hantu; Dia mau para murid tetap melihat diri-Nya sebagai manusia utuh yang berdaging dan berdarah. Persoalannya, Thomas, salah seorang Rasul-Nya tidak percaya kalau dia sendiri tidak melihat dan mencucukkan jarinya ke dalam luka belas paku dan tusukan tombak.

Hal yang sama terjadi ketika Yesus yang Bangkit datang menjumpai mereka di tepi danau. Mereka tidak mengerti dan tidak percaya akan anugerah yang turun atas diri mereka pada saat itu. Tidak! Mereka tidak percaya, walaupun mereka merasa girang dan heran, sebab rasa girang belum tentu bernilai bagi iman.

Untuk membantu para murid-Nya yang sedang kacau pemikiran mereka, Yesus berusaha meyakinkan mereka dengan mengambil sepotong ikan goreng dan memakannya di depan mata mereka. Yesus rela merendahkan diri dengan berbuat apa saja agar para murid-Nya mengerti, percaya dan yakin akan realitas kehadiran dan kebangkitan-Nya. Walaupun sudah bangkit dan tidak membutuhkan ikan goreng, Yesus bersedia makan, asalkan para murid dan kita semua memasuki jalan iman untuk menerima dan percaya akan realitas kebangkitan yang dialami-Nya.

Kini, Yesus tampaknya tidak berdaya; Yesus sepertinya menemukan jalan buntu untuk meyakinkan kedua murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Ketika jalan peyakinan diri akan realitas kebangkitan-Nya dengan penampilan fisik-Nya menemukan jalan buntu, Yesus berusaha membuka pikiran mereka dengan menggunakan dasar-dasar yang diambil dari Kitab Suci sendiri sehingga mereka mengerti dan memahami isi Kitab Suci itu sendiri, terutama nubuat tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang semuanya sudah tersedia di dalam Kitab Suci.

Yang patut dipertanyakan, “Mengapa kedua murid dan terutama kedua yang sedang menuju Emaus lamban untuk mengerti dan memahami isi nubuat Kitab Suci mengenai kematian dan kebangkitan Yesus?

Pertama, mereka lamban mengerti atau tidak mengerti nubuat Perjanjian Lama serta Sabda Yesus dan nubuat-Nya mengenai kematian dan kebangkitan-Nya karena hati dan pikiran mereka saat itu hanya tertuju pada kubur. Yesus, Sang Guru mati di salib dan dikuburkan. Perjalanan kehidupan dan karya Yesus sudah berakhir di salib dan di kubur-Nya; Semuanya sudah selesai. Mereka tidak seperti Yohanes Rasul yang melihat kubur Yesus dan percaya: Dia melihat kubur kosong dan percaya bahwa Yesus bangkit, seperti yang sudah dinubuatkan-Nya. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan yang Wafat dan Dimakamkan Bangkit dan Hidup.

Kedua, mereka juga lamban mengerti, tidak mengerti mengenai nubuat Perjanjian Lama dan nubuat Yesus sendiri mengenai kematian dan kebangkitan-Nya, bahkan tidak mengenal Yesus yang Bangkit sedang berada bersama dan menemani perjalanan mereka karena mata dan hati mereka atau penglihatan mereka dihalangi/ditutupi oleh cita-cita, keinginan, harapan dan mimpi mereka tatkala memutuskan untuk mengikuti Yesus. Mereka mengikuti Yesus, Sang Guru karena ingin mendapat posisi di sisi kiri dan kanan jika Yesus menjadi Raja Bangsa mereka. Namun, mimpi mereka sirnah karena Sang Guru yang diikuti dan dikagumi ternyata mengalami kematian tragis di kayu salib

Ketiga, mereka lamban mengerti, bahkan tidak mengerti nubuat Perjanjian Lama dan nubuat Yesus sendiri mengenai kematian dan kebangkitan-Nya sebab selama mengikuti Yesus, mereka mendengarkan ajaran Yesus sesuai dengan kepentingan mereka sendiri. Mereka tahu bahwa sebagai murid, tugas mereka yang paling utama adalah mendengarkan Sang Guru. Mereka mengerti bahwa “Percaya akan pemberitaan Kitab Suci yang diperoleh dari pendengaran” merupakan dasar yang memungkinan mereka untuk mengerti isi Kitab Suci dan memampukan mereka untuk melaksanakan tugas kerasulan kepada sesama. Persoalannya, dalam mendengarkan pengajaran Injil Yesus, mereka tidak membuka diri seutuhnya terhadap pelbagai informasi yang terlontar dari mulut Yesus. Mereka tidak berani dan tidak bersikap rendah hati dalam mendengarkan pengajaran Yesus. Hal ini terjadi karena di dalam mendengarkan Yesus, mereka hanya menerima apa yang cocok dan berkenan dengan pendirian mereka.

Patut diakui bahwa kendati mereka dekat dengan Yesus, mereka tidak menerima dua kenyataan yang tidak terpisahkan dari jatidiri Yesus sebagai Mesias, yaitu Yesus harus menderita dan harus bangkit dari antara orang mati. Padahal iman yang benar dan otentik akan penderitaan, kematian dan kebangkitan harus diterima sebagai lingkaran yang utuh, tidak terpisahkan antara Jumat Agung dan Paskah Kebangkitan; antara cinta, korban dan kemuliaan; antara kerja keras dan keberhasilan. Tidak mungkin ada Paskah Kebangkitan, tanpa Jumat Agung. Karena dasar iman inilah, maka Yesus yang Bangkit dan Hidup datang menjumpai mereka dengan membawa serta luka di kedua tangan dan kaki-Nya serta luka di lambung-Nya. Dengan memperlihatkan luka bekas paku dan tombak di tangan, kaki dan lambung-Nya, Yesus menyatakan kepada mereka dan kita semua bahwa Dia yang Bangkit dan Hidup, saat ini, di hadapan dan bersama mereka dan kita adalah Dia yang dibunuh dan wafat di salib yang hina di Jumat Agung...

 

Bagi kita saat ini, perlu disadari bahwa:

Pertama, ada di antara kita yang menjadi pengikut Yesus Kristus yang Bangkit karena memiliki mimpi dan kepentingan tertentu yang ingin diperoleh dari Yesus. Kita pun merasa kecewa ketika mimpi-mimpi kita tidak terpenuhi di saat kita bermohon kepada-Nya. Kita tidak sadar dan tidak percaya bahwa setiap saat Yesus yang Bangkit selalu mendekati kita....berjalan bersama kita... menjawab semua keinginan dan harapan kita dengan cara-Nya. Dia yang Bangkit mendekati, berjalan bersama dan memenuhi harapan kita dalam diri setiap pribadi yang setiap saat bersama kita; berbagi cerita, berbagi rasa dan harapan. Apakah mata kita terhalang untuk melihat kehadiran Dia yang Bangkit dalam diri semua orang yang selalu bersama kita?

Kedua, kita dituntut untuk mendengar dan mengerti Sabda Yesus sesuai dengan Pikiran dan Kehendak Yesus, bukan membaca dan menafsirkan-Nya sesuai dengan pikiran, keinginan dan kepentingan kita. Jika kita mendengar dan mengerti Sabda Yesus sesuai dengan keinginan dan kepentingan kita, kita akan menjadi penganut HKBP (Seharusnya Huria Kristen Batak Protestan, namun sering menjadi Huria Katolik Berbauh Protesta). Karena itu, marilah kita membangun sikap mendengarkan yang benar, yang memungkinkan kita mengerti dan memahami isi Kitab Suci tidak. Sikap yang tepat dalam mendengarkan Sabda Yesus menuntut dari kita, bukan hanya kemauan untuk mengosongkan diri sampai ke tingkat tertentu, melainkan juga berani membuka diri untuk menerima segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera dan tidak berkenan di hati kita. Kita mungkin cenderung mendengarkan sebagai guru, bukan untuk belajar, melainkan untuk menguji orang lain. Salah satu sifat dari seorang murid, hamba Allah, sebagaimana dikatakan Yesaya adalah mempertajam pendengaran agar kita dapat mendengarkan suara Allah sebagai seorang Murid. Kita memohonkan telinga seorang murid untuk mendengarkan Yesus yang berbicara kepada kita.

Ketiga, kita harus mencari Yesus, bukan di Kubur, melainkan dalam Dunia Orang-orang yang Hidup. Yesus Kristus adalah Sabda Kekal Allah yang Menjadi dan Hidup dalam Rupa Manusia dan Tinggal di antara kita, manusia. Dia adalah Sang Hidup, sumber dan asal semua kehidupan dari semua ciptaan, terutama manusia. Sabda Kekal Allah, Sang Hidup TIDAK AKAN PERNAH MATI. Yang mengalami siksaan, penderitaan dan kematian di salib adalah Tubuh Insani dari Sang Sabda Kekal yang mengenakan pada diri-Nya Daging Insani. Tubuh Insani Yesus harus mengalami kematian sebagai wujud ketundukan-Nya kepada hukum biologis dan jalan bagi-Nya untuk masuk ke dalam dunia orang mati (tempat penantian) untuk memberikan Kesaksian kepada jiwa-jiwa yang berada di tempat penantian bahwa semua jiwa yang mendengarkan Sabda-Nya dan melakukan pekerjaan-Nya, walaupun memiliki kesalahan dosa akan mengalami kebangkitan bersama-Nya. Dialah Jaminan Tunggal bagi kebangkitan dan keselamatan jiwa-jiwa yang percaya kepada-Nya.

 

Membeo

Pendeta John mendapat kehormatan untuk melayani jemaat di Sulawesi Utara (Manado) sebagai guru Sekolah Minggu. Di awal karyanya, pendeta John bercerita tentang perjalanan kehidupan Yesus mulai dari peristiwa kelahiran hingga kematian-Nya di kayu salib. Hanya sekilas saja pendeta John menyinggung soal kebangkitan Yesus. Minggu berikutnya, pendeta John bermaksud menguji daya ingatan anak Sekolah Minggunya dengan mengajukan beberapa pertanyaan:

“Jadi, adik-adik…, Tuhan Yesus lahir di Betlehen dan berbaring di dalam palu…?

“Ngannnnnn….,” jawab anak Sekolah Minggu serempak.

“Betul, anak pintar! Ketika hidup di dunia ini, Tuhan Yesus banyak membuat mukjizat seperti menyembuhkan orang sa….?”

“Kit…,” jawab anak-anak dengan nada yang mantap dan keras.

“Wah, hebat. Ternyata kalian masih ingat cerita Minggu yang lalu. Nah, sekarang…karena Yesus banyak melakukan mukjizat, Tuhan Yesus disiksa, dipukuli, dicambuk dan akhirnya Tuhan Yesus mati. Namun pada hari ketiga, Tuhan Yesus kemudian bang….bang….?

Semua Anak Sekolah Minggu tampak bingung sebab cerita Minggu sebelumnya paparan mengenai kebangkitan Yesus hanya disampaikan sepintas lalu. Mereka saling memandang, sampai akhirnya seorang anak kecil mengacungkan tangan dan memberanikan diri untuk menjawab. Namun sebelumnya, anak itu meminta pendeta John untuk mengulangi pertanyaannya, “Sesudah Tuhan Yesus banyak melakukan mukjizat, Tuhan Yesus disiksa, dipukuli, dicambuk dan akhirnya Tuhan Yesus mati. Namun pada hari ketiga, Tuhan Yesus kemudian bang….bang….?

Anak itu spontan menjawab, “Bangka-bangka!!!!” (bangka-bangka artinya bengkak-bengkak). Tidak jarang, kita hanya membeo dalam membaca Kitab Suci sehingga kerap salah menafsir dan memahami pesan intinya.

 

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Pasqua...

Dio Ti Benedica...

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 


Minggu, 11 April 2026 (Pekan II Paskah)

"Taruhlah jarimu di sini....."

(Yoh 20:27)

Bacaan I Kisah Para Rasul 2:42-47.

Bacaan II 1Petrus 1:3-9

Injil Yohanes 20:19-31.

**************************

Pada tanggal 23 September 1968, Santo Padre Pio, seorang imam Capusin meninggal dunia di sebuah biara di Italia. Selama 50 tahun, dia menyandang stigmata, yaitu luka-luka pada tangan, kaki dan lambung. Luka-luka itu tidak pernah sembuh. Banyak orang mengakui bahwa luka-luka itu adalah luka-luka Yesus sendiri

Manusia dari seluruh penjuru dunia datang menjumpai Santo Padre Pio untuk mengaku dosa dan merayakan Ekaristi yang dipimpinnya. Di samping stigmata, Santo Padre Pio juga memiliki banyak kekuatan rohani, terutama kemampuan untuk menyembuhkan dan mengerti bahasa jiwa serta kebutuhan mereka.

Ketika mempersembahkan misa, Santo Padre Pio sendiri dan juga semua umat yang ikut dalam perayaan itu menyadari bahwa Santo Padre Pio membawa dalam dirinya luka-luka Yesus saat di dera dan disalibkan oleh para serdadu. Luka-luka ini mendatangkan penderitaan yang tiada duanya bagi Santo Padre Pio.

Ketika Santo Padre Pio mempersembahkan misa, umat melihat darah yang menetes dari tangannya. Sayangnya, darah yang menetes itu hanya terlihat ketika dia mempersembahkan misa. Pada kesempatan lain, umat juga melihat Santo Padre Pio sedang memanggul salib dan sedang menangis. Di saat dia melihat ke arah Hosti yang sudah Dikonsekrir, wajahnya kelihatannya seperti wajah Malaikat. Semua umat yang mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Santo Padre Pio mengalami suasana batin yang penuh kedamaian.

Bagi kebanyakan orang, kisah hidup Santo Padre Pio mirip dengan dongeng suci yang terjadi di Abad Pertengahan. Padahal Santo Padre Pio adalah seorang manusia saleh yang hidup di zaman ini. Dia sudah menjalani pelbagai tes medis untuk mengetahui sebab-sebab dari luka-lukanya. Namun semua hasil tes menunjukan bahwa apa yang dialami Santo Padre Pio tidak bisa dijelaskan secara ilmiah menurut ilmu kedokteran. Demikian juga dengan penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan oleh Santo Padre Pio terhadap orang-orang sakit yang datang kepadanya. Alasan inilah yang memotivasi begitu banyak manusia dari seluruh penjuru dunia, baik yang berbeda agama maupun yang tidak beragama datang menjumpai Santo Padre Pio.

*******************

Luka-luka di tangan, kaki dan lambung Santo Padre Pio menuntun semua orang yang mengunjungi dan melihatnya (termasuk kita) untuk meng’amin’i dan meng’iman’i tanpa ragu akan luka-luka Yesus Kristus akibat deraan para serdadu hingga mengalami kematian tragis di atas kayu salib. Ironisnya, mereka dan kita tidak mampu melihat adanya luka-luka di tangan, kaki dan lambung kita sendiri akibat dosa-dosa kita yang membuat tangan, kaki dan lambung Yesus Kristus terluka dan wafat di salib yang hina.

Kisah Injil hari ini menampilkan kepada kita sisi kehidupan Yesus Bangkit dengan sangat kontras: Yesus Disalibkan dan Mati di Kayu Salib, namun Bangkit; Yesus Terluka, namun Mulia. Tanda pengenal yang khas dalam diri Yesus adalah Salib dan luka-luka-Nya, derita dan sengsara-Nya yang sesungguhnya salib dan luka-luka kita sendiri. Yesus ditampilkan sebagai sosok yang gagal, namun menjadi pemenang jaya; Yesus yang tampaknya lemah, namun menjadi kuat dan tampil sebagai pemenang yang jaya. Inilah rahasia Paskah!

Thomas, seorang manusia pembimbang dan peragu mengalami sosok Yesus dalam perpaduan yang kontras ini. Dia berkata, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” bahwa Dia sungguh-sungguh Bangkit.

Di saat Thomas dikuasai oleh keraguannya akan kebangkitan Yesus, pada momen itulah Yesus yang Bangkit menjumpainya dan para murid-Nya yang sedang berkumpul dalam sekat tertutup karena ketakutan. Yesus yang Bangkit tidak hanya memperlihatkan diri-Nya, tetapi juga berseru kepada Thomas peragu, "lihatlah...", "taruhlah" dan "cucukanlah ke dalam lambung-Ku".

Kata-kata yang diucapkan oleh Yesus yang Bangkit kepada Thomas ini tidak hanya dimaksudkan agar Thomas dan semua murid-Nya “mengenal-Nya” dan “percaya” bahwa “Dia sungguh-sungguh Bangkit dan Hidup”, tetapi juga agar “mereka dituntun untuk melihat luka-luka dalam diri mereka karena kurang percaya supaya bisa mengalami kebangkitan dalam kehidupan iman mereka. Penampilan Yesus sebagai Manusia yang Menderita, Terluka, Bangkit dan Hidup di hadapan Thomas dan para murid-Nya serta ajakan-Nya agar Thomas melihat, menaruh dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya yang ditembusi tombak membuat Thomas terkesan serta percaya. Thomas menjawab, “Ya Tuhanku dan Allahku! Dalam pernyataan Thomas ini terungkap:

 

o   Rasa tersentuh karena Yesus yang Bangkit menunjukkan luka-luka-Nya!

o   Rasa tersentuh karena Yesus yang Bangkit tampil sebagai seorang Manusia yang Lemah!

o   Rasa tersentuh karena Yesus yang Bangkit menunjukkan bahwa Dia pernah Menderita.

o   Rasa tersentuh karena Yesus yang Bangkit menunjukkan kemanusiaan-Nya yang senasib dengan Thomas; pernah Terluka dan sebagai Orang yang Terluka!

 

Perasaan tersentuh yang meliputi diri Thomas karena Yesus yang Bangkit mendesaknya untuk melihat, menaruh dan mencucukan jarinya ke dalam lambung-Nya yang terluka akan kita alami apabila kita melihat “Paskah Kebangkitan Yesus Kristus dalam satu lintasan yang utuh antara penderitaan-wafat-kebangkitan”. Thomas, para murid dan kita dituntun oleh Yesus yang Bangkit untuk mengalami Kebangkitan-Nya. Namun, pengalaman kebangkitan tidak pernah terpisahkan dari penderitaan dan kematian-Nya. Kebangkitan mulia hanya mungkin terjadi dan dialami dalam peziarahan iman kita apabila dengan cinta dan korban, kita bersedia agar 'tangan dan kaki kita ditembus paku' dan 'lambung kita ditikam tombak'.

 

Ingatlah dan renungkalah:

 

o   Yesus yang Bangkit tetap dan selalu “Menunjukan Diri-Nya yang Terluka”, kapan dan di mana saja.

o   Yesus yang Bangkit juga tetap dan selalu menuntut kita untuk 'menaruh jari', dan 'mencucukan tangan kita ke dalam lambung-Nya agar kita ditarik untuk sungguh-sungguh masuk dan bersatu dalam Tubuh-Nya yang Menderita.

o   Kemenangan jaya, kebangkitan yang mulia akan kita alami dalam hidup, apabila kita sungguh-sungguh masuk dan bersatu dengan Tubuh Yesus yang Terluka dan Menderita.

 

Caranya:

Dengan menunjukkan luka-luka-Nya kepada Thomas dan para murid-Nya, Yesus juga mengajarkan agar kita:

 

o   Tidak seharusnya melihat kekuatan dan prestasi kita yang hebat dan luar biasa; tetapi harus berani memperlihatkan kelemahan dan luka-luka batin kita.

o   Berani dan terbuka memperlihatkan sisi lemah kehidupan kita; melihat dan menerima luka-luka kita, maka kita akan dipulihkan dan disembuhkan.

o   Menerima sesuatu yang terluka dalam diri dan kehidupan kita sehingga bisa diobati dan disembuhkan!

o   Membuka diri kepada Tuhan, walau terluka, kita akan mengalami sinar hijau yang lembut dan memiliki kekuatan yang menyembuhkan … kegersangan batin akan membuahkan hidup yang sehat; hidup yang penuh sebagaimana fajar pagi yang menampilkan awal hari yang baru!

 

Persoalannya, apakah kita berani menunjukkan luka-luka dalam diri kita? Apakah kita berani menunjukkan sisi gelap dalam kehidupan kita? Apakah kita berani menunjukkan sisi negatif dari kepribadian kita? Apakah kita berani menunjukkan dan mengakui kelemahan kita? Apakah kita berani mengakui ketidakmampuan kita? Apakah kita berani menunjukkan tekanan batin kita? Apakah kita berani mengakui bahwa kita lemah, tidak penting?

Patut diakui bahwa kita tidak rela menunjukkan sisi gelap kehidupan kita. Kita ingin menjadi sebuah iklan/reklame yang tidak akan pernah memperlihatkan bahwa produksi diri kita itu jelek… jika tidak, semua produksi diri kita tidak bakalan laku; pabrik kehidupan kita bisa ditutup dan kita akan menjadi penganggur yang tidak laku.

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih....

Buoama Pasqua e Buona Giornata...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 


Paskah Kebangkitan Tuhan

04-05 April 2026

********************

“Dan Batu itu Sudah Terguling”

Markus 16,1-8


Perangkap Maut

Pada suatu ketika, seekor tikus berkata, “Setiap hari dunia ini sepertinya semakin sempit. Dulu, dunia ini sangat luas sehingga saya bisa berlari ke sana ke mari. Saya merasa bahagia karena bisa memandang jauh ke depan dan bisa melihat tembok kiri dan kanan.

Namun, sekarang dinding-dinding tembok yang lebar itu semakin dekat satu dengan yang lainnya sehingga ketika tiba di kamar yang terakhir, di sebuah sudut, saya sudah menemukan perangkap untuk menangkap saya. Tidak ada kemungkinan lain ... saya harus masuk ke dalam perangkap itu.

Ketika Tikus berada di sudut rumah itu, tiba-tiba terdengar suara persis berada di belakangnya yang berkata, “Engkau harus mengubah arah lompatanmu”. Dia menoleh ke belakang. Dia sangat terkejut karena di hadapannya berdiri seekor kucing yang siap memangsanya. Dengan bringas kucing itu menerkamnya.

Tidak ada jalan bagi tikus untuk menyelamatkan dirinya: Maju, masuk perangkap dan mati! Mundur, berbalik, diterkam, mati!

**************************

Gambaran Hidup Manusia

Kisah tikus ini adalah sebuah gambaran yang nyata mengenai kehidupan kita. Pada awal kehidupan, di hadapan kita terbentang kemungkinan yang tidak terbatas dan sangat luas. Namun, dari hari ke hari, minggu, bulan dan tahun ke tahun, hidup ini justru menjadi sempit. Kita seolah terdesak dan terpojok ke sudut kehidupan yang sama sekali tidak memiliki jalan keluar.

 

Setiap saat, ada sel-sel kehidupan kita yang berubah menjadi tua:

o   Wajah yang montok berubah menjadi keriput.

o   Badan yang gemuk dan tambun berubah menjadi kurus.

o   Rambut yang hitam berubah menjadi putih-ubanan.

o   Gigi yang penuh berubah menjadi ompong.

Proses ini sangat alami dan tiada seorang pun dari kita yang mampu menghindarinya. Tiada seorang penguasa dunia pun yang mampu menangkal proses ini. Kita tidak bisa mengelak dan tidak bisa mempertahankan keabadian diri kita. Di akhir dinding kehidupan ini, perangkap maut menanti kita. Apabila kita luput dari perangkap maut, maka maut (seperti kucing dalam kisah tadi) akan menerkam kita.

 

Maut Tidak Terelakkan!

Kisah Injil ini sungguh-sungguh menyapa situasi hidup kita saat ini. Injil tidak berkisah mengenai jalan keluar di hari Paskah di alam yang indah. Ketiga wanita berjalan menuju makam Tuhan. Mereka membawa minyak untuk mengurapi jenazah Tuhan, sama seperti kehadiran kita yang membawa serta bunga untuk diletakan sebagai harum-haruman di makam atau membawa sesuatu yang berkenan, terutama kehadiran, rasa haru dan duka, serta tangisan sebagai wujud keterlibatan kita bersama keluarga yang ditinggalkan

Perjalanan menuju kubur bukanlah perjalanan Paskah. Mereka berada dalam situasi Jumat Kelabu. Mereka datang dengan membawa harapan terakhir, yaitu memberikan milik kepunyaan mereka, harta mereka yang layak diberikan kepada jenazah Tuhan, Guru mereka.

Tuhan sudah mati. Sejarah kehidupan mereka bersama Tuhan, kini berakhir. Apa yang tertinggal dalam kenangan mereka?

Dengan minyak dan balsem, mereka hanya ingin memperpanjang kehadiran jenazah Tuhan supaya tidak cepat membusuk. Inilah yang menyenangkan mereka. Ini saja. Mereka tahu bahwa tiada seorangpun yang mampu menangkal sengatan maut/kematian. Mereka hanya bertanya cemas, “Siapakah yang bisa menggulingkan batu besar itu dari pintu kubur?

Tampaknya penginjil sengaja melukiskan bahwa batu itu sangat besar. Sama seperti tembok dalam kisah tadi yang menuntun tikus kepada maut: Siapakah yang mampu menggulingkan batu besar itu dari pintu kubur?

Batas yang memisahkan hidup dan maut sama seperti batu besar itu. Secanggih apa pun peralatan modern saat ini tidak akan pernah sanggup menggulingkan batu maut. Maut tidak bisa ditarik, tidak bisa dibatalkan dalam kehidupan kita.

Dia sudah Bangkit!

Di titik nol kemanusiaan kita, kita sungguh-sungguh berada pada batas akhir kesanggupan kita. Pada saat itulah Allah berkarya. Batu maut yang besar terguling dan digulingkan dengan kekuatan Ilahi-Nya. Tembok-tembok maut yang kokoh runtuh; kematian dihancurkan oleh Tuhan: “Kamu mencari Yesus dari Nazaret, yang disalibkan. Dia sudah bangkit; Dia tidak ada di sini. Tempat-Nya di dalam kubur sudah kosong.

 

Yakinlah...

Di mana ada maut,

di sana muncul warta mengenai kehidupan baru.

Di mana kematian bercokol,

datanglah warta mengenai kehidupan baru!

 

Warta ini bukanlah kebetulan. Sejak awal kehadiran-Nya Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai pembawa hidup. Di saat kita mendekati kematian; di saat kita nyaris terkubur bersama segudang harapan karena penderitaan yang kita alami, di sana Tuhan menciptakan hidup. Sepanjang hidup dan karya-Nya, Tuhan menghadapi konflik terbuka menghadapi maut, sebuah pertarungan antara hidup dan mati (mors et vita duello). Yesus bertarung dengan penguasa maut yang haus kuasa, jahat dan biadab hingga berujung pada kematian tragis di kayu salib. Namun, Dia yang tersalib dan mati secara keji, kini Hidup dan Meraja. Dia mengalahkan penguasa maut yang biadab dengan kelemahan kasih-Nya di salib, bukan dengan kekuatan senjata. Kemenangan-Nya tampak dalam ketidakberdayaan kuasa maut membusukan raga-Nya. Dia bangkit dengan tubuh baru, tubuh yang mulia dan kudus.

Peralihan dari kematian menuju kehidupan bukanlah tanpa perjuangan yang hebat. Maut adalah penguasa terbesar yang tidak hanya menguasa kehidupan kita di saat yang terakhir. Maut tidak boleh diremehkan karena selalu menuntut korban. Yesus sendiri tidak terhindar dari bahaya maut ini: Penguasa atas Hidup dan Pemilik Hidup pun mengalami kematian (dux vitae mortuus).

 

Kematian: Akhir Segalanya?

Kita pasti memahami, apa artinya jika ada seseorang yang dibunuh untuk memberikan hidup bagi sesamanya. Yesus pun demikian. Dia sendiri mengatakan: Aku adalah kehidupan, namun mati. Jika demikian adanya, maka kematian Tuhan justru menjadi akhir bagi segalanya. Namun justru pada titik inilah Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Dalam kematian-Nya, Dia mengalahkan kematian. Batu maut yang besar, batas akhir maut dan kehidupan terguling: Penguasa hidup yang mati, kini hidup dan meraja.

Tuhan bangkit. Inilah dasar harapan kita. Inilah yang membuka perpektif hidup yang baru bagi kita. Kisah tikus dan kucing kini berubah: manusia dan dunia tidak lagi terpaksa masuk ke dalam perangkap maut...atau berbalik akan diterkam oleh sang maut. Tidak lagi. Maut dan kematian dikalahkan. Batu besar di pintu makam itu sudah terguling. Maut sudah dikalahkan.

Arti Paskah!

Paskah kebangkitan bagi kita dan terutama saudara kita ini berarti:

o   Allah sendirilah yang menggulingkan batu itu.

o   Allah sendirilah yang mengalahkan maut.

o   Perjalanan ke makam berubah menjadi perjalanan menuju kehidupan.

 

Arah kehidupan kita harus lain:

o   Bukan dari kehidupan menuju kematian, melainkan dari kematian menuju kehidupan!

o   Bukan dari terang ke terang, melainkan dari gelap menuju terang!

o   Bukan dari atas ke bawah, melainkan dari bawah ke atas.

o   Membiarkan Tuhan bertindak dan melakukan hal yang besar dalam ketidakberdayaan kita.

o   Biarkan Tuhan sendiri yang menggulingkan batu maut itu.

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Pasqua...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

Hari Minggu Palem, Tahun A 29 Maret 2026

“Seekor Keledai Betina”

Matius 21:1-11

“Lihat, Rajamu datang kepadamu. Dia lemah lembut ... mengendarai seekor keledai betina, dan seekor keledai beban yang muda.” Lalu pergilah murid-murid dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, mengalasinya dengan jubah mereka dan Yesus pun duduk di atasnya.”

(Matius 21:5-74)

Sentuhan Kelembutan

Beberapa anak laki-laki dari kota sedang menikmati masa liburan di sebuah perkambungan. Mereka menginap di sebuah rumah yang berdiri di tengah ladang.

Pada suatu hari, seekor anak sapi keluar dari kandang dan tiga orang anak laki-laki itu berusaha memasukan kembali anak sapi itu ke dalam kandanf. Seorang di antara mereka menyeret anak sapi itu dengan memegang tanduknya yang baru tumbuh.  Dua orang anak laki-laki mendorong anak sapi itu dari samping, kiri dan kanan.

Akan tetapi, semakin mereka menarik dan mendorong, anak sapi itu justru berdiri kokoh di tenpatnya. Anak sapi itu tidak bergerak sedikit pun dari posisi awalnya.

 Kemudian, datanglah seorang putri petani. Dia menyaksikan semua usaha yang dilakukan ketika anak laki-laki kota itu. Sambil tersenyum, putri petani itu mendekati anak sapi, memasukan jarinya ke dalam moncongnya. Pada saat itu, anak sapi menghisap jarinya dan dia pun menuntun anak aspi itu ke kandang. Anak sapi itu mengikuti anak petani itu dengan penuh kerelaan.

Ketiga anak laki-laki kota itu menggeleng-gelengkan kepala mereka penuh kekaguman. Mereka sadar bahwa mereka melakukan cara pendekatan yang sangat keliry. Mereka memaksakan kehendak mereka, tanpa menghiraukan apa yang diinginkan anak sapi itu. Putri petani berperan sebagai Malaikat: dia memberikan apa yang dikehendaki anak sapi dan anak sapi pun mengikuti keinginan sang putri petani dengan penuh kerelaan.

Pesan

Sikap dan perbuatan putri petani mengingatkan kita bahwa sentuhan cinta penuh kelembutan menjadi jalan utama menuju perubahan. Sentuhan cinta penuh kelembutan jemari putri petani di moncong sapi menuntun sapi itu menuju kandangnya. Sebaliknya, jalan dan cara kekerasan yang dilakukan oleh tiga anak laki-laki kota justru membuat anak sapi berkeras, berdiri kokoh dan bertahan di tempatnya.

 

 

Senjata Yesus: Cinta dan Kelembutan

Inilah jalan/cara Yesus mengubah hati dunia yang keras, menghancurkan hati manusia yang membatu penuh kecurigaan, kebencian, persaingan dan balas dendam. Yesus menghadapi hati dunia, terutama hati manusia dengan cinta-Nya yang penuh kelembutan, bukan dengan kekerasan senjata.

Beberapa hari sebelum disalibkan, Yesus memasuki kota suci dengan menunggang seekor keledai betina. Inilah gambaran jati diri Yesus yang sesungguhnya. Dia bukanlah Raja yang memiliki kekuasaan sehingga harus menunggangi kuda pelana. Dia juga tidak menggunakan kereta emas sebagai calon raja. Dia justru rendah hati, seperti seekor keledai yang taat seutuhnya kepada tuannya dan siap melayani tuannya.

Dia datang ke bumi fana ini tanpa senjata...

o   Dia memasuki kota suci tanpa senjata, walaupun tujuan kedatangan-Nya sangat jelas, yaitu menaklukkan kekuasaan yang menginjak-injak, bahkan membunuh dan membinasakan manusia.

o   Dia menghadapi, mengalahkan dan menghancurkan kekuasaan duniawi yang menginjak-injak, membunuh dan membinasakan manusia bukan dengan rudal, bom dan meriam, melainkan dengan Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih-Nya.

o   Dia menghadapi, mengalahkan dan menghancurkan kekuasaan duniawi dengan merangkul dan mengampuni semua pelakunya dengan Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih-Nya.

Inilah senjata kemuliaan Yesus untuk menghancurkan semua jenis kemuliaan palsu, kosong, hampa, tanpa makna yang selalu diperjuangkan manusia. Dia datang untuk menghentikan sistem paksaan dan kekerasan yang mewarnai relasi antarmanusia di sepanjang zaman. Kemuliaan-Nya ada dalam Cinta dan Belas Kasih-Nya yang merangkul dan mengampuni..

Kota Baru, Dunia Baru, Yerusalem Baru

Sejak minggu Palem dan selama Pekan Suci ini, kita melihat dan mengalami bagaimana drama kesombongan dan kearagonan manusia yang tampak dalam perjuangan untuk membangun menara Babel berhadapan dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan Yesus yang membangun kota untuk menampung anak-anak-Nya, yaitu Kota Baru - Dunia Baru yang sejak kekal tercipta oleh Bapa dalam diri Anak-Nya.

Dalam Perjanjian Lama, kota itu nyata dalam Bahtera (yang dibangun) Nuh untuk menyelamatkan keluarganya dari amukkan air bah. (Ibr 11:7) Karena imannya kepada Yahwe, Abraham membangun kemah dan dia bersama keluarganya tinggal di dalamnya sembari menantikan kota yang dibangun di atas landasan yang kokoh.

Kini, saatnya, Yesus Sang Raja harus memasuki Kota Yerusalem untuk membangun Kota Baru/Dunia Baru/Yerusalem Baru untuk menampung anak-anak Allah, tempat kediaman kekal bagi umat manusia bersama Allah dan sesamanya. Kota Baru yang dibangun Yesus dilandaskan pada Hidup-Nya, yaitu Hidup Allah dalam Diri-Nya, yaitu cinta, kerendahan hati dan kelemah-lembutan, bukan ambisi, kebencian, kekerasan dan balas dendam. Kota Baru/Dunia Baru/Yerusalem Baru yang dibangun Yesus adalah Hati. Karena landasan Kota Kekal adalah Allah yang Berdiam di Hati, maka iman kepada Allah dan ikatan cinta antarpribadi yang beriman dengan sesamanya menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Iman menegaskan kekokohan relasi dan komunikasi cinta antara Allah dengan pribadi yang beriman dan ikatan cinta di antara pribadi beriman dengan sesama manusia.

Iman dan cinta, kasih sayang dan kelembutan tidak hanya memberikan keteguhan batin bagi pribadi-pribadi yang beriman, tetapi juga memperjelas dan mempertegas relasi cinta antara manusia dengan Allah dan pribadi yang beriman dengan sesamanya. Dalam ikatan ini, Allah menjadi Jaminan dan Andalan Tunggal. Dia adalah Pemilik dan Pemberi Kota yang Kekal bagi manusia yang beriman kepada-Nya.

Usaha untuk membangun Kota Baru yang Kekal menuntut setiap pribadi beriman untuk melandaskan dan mengakarkan Kota Baru itu di atas Fondasi Imannya dan membuahkan imannya dalam tindakan cinta. Iman lahir dari pengalaman perjumpaan awal dengan cinta Allah. Cinta akan memperjelas dan meneguhkan makna iman, yaitu menumbuhkan kebaikan hidup serta mengarahkan pribadi beriman kepada kepenuhan hidup. Cinta akan meningkatkan dan memperkaya relasi antara manusia dengan Allah dan sesama serta memperkaya kehidupan bersama. Tanpa cinta, relasi antara manusia dengan Allah dan sesama mustahil terbina. Iman yang berbuah dalam tindakan cinta akan memberdayakan pribadi yang beriman untuk mengembangkan relasi antarpribadi manusia serta mengarahkannya menuju tujuan akhir yang membahagiakan, yaitu Allah sendiri. Iman yang dinyatakan dalam aksi pelayanan demi kebaikan bersama hanya mungkin dimiliki jika pribadi beriman memiliki cinta.

Iman membuat kita menghargai arsitektur dari hubungan antarpribadi manusia dan manusia dengan Allah sebab iman serentak menjadi landasan utama dan tujuan akhir dari semua perjalanan hidup manusia dalam Allah, dalam kasih-Nya, dan dengan demikian memperjelas seni bangunan itu. Iman yang benar adalah iman yang dinyatakan dalam aksi pelayanan demi kebaikan bersama. Terang iman tidak hanya menerangi bagian dalam Gereja, tidak hanya melayani kita untuk membangun kota yang kekal di akhirat, tetapi memberdayakan kita untuk membangun masyarakat sedemikian rupa supaya mampu melakukan perjalanan menuju masa depan yang berpengharapan.

Perarakkan Palma serentak melambangkan dan menyatakan bahwa misteri kejahatan dikalahkan oleh misteri cinta, kerahiman dan kasihan Allah dalam diri Putra-Nya. Perarakan Palma menyatakan bahwa hanya orang yang hatinya penuh cinta, kerahiman dan belas kasih; lemah lembut dan rendah hati yang akan memiliki bumi ini, yaitu Bumi Baru/Kota Baru/Yerusalem Baru. Persoalannya, apakah kita melapangkan pakaian hati kita untuk dilawati dan menjadi Takhta Kediaman bagi Sang Raja Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih?

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih....

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget