Keuskupan Sibolga

Latest Post

Hari Minggu Palem, Tahun A 29 Maret 2026

“Seekor Keledai Betina”

Matius 21:1-11

“Lihat, Rajamu datang kepadamu. Dia lemah lembut ... mengendarai seekor keledai betina, dan seekor keledai beban yang muda.” Lalu pergilah murid-murid dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, mengalasinya dengan jubah mereka dan Yesus pun duduk di atasnya.”

(Matius 21:5-74)

Sentuhan Kelembutan

Beberapa anak laki-laki dari kota sedang menikmati masa liburan di sebuah perkambungan. Mereka menginap di sebuah rumah yang berdiri di tengah ladang.

Pada suatu hari, seekor anak sapi keluar dari kandang dan tiga orang anak laki-laki itu berusaha memasukan kembali anak sapi itu ke dalam kandanf. Seorang di antara mereka menyeret anak sapi itu dengan memegang tanduknya yang baru tumbuh.  Dua orang anak laki-laki mendorong anak sapi itu dari samping, kiri dan kanan.

Akan tetapi, semakin mereka menarik dan mendorong, anak sapi itu justru berdiri kokoh di tenpatnya. Anak sapi itu tidak bergerak sedikit pun dari posisi awalnya.

 Kemudian, datanglah seorang putri petani. Dia menyaksikan semua usaha yang dilakukan ketika anak laki-laki kota itu. Sambil tersenyum, putri petani itu mendekati anak sapi, memasukan jarinya ke dalam moncongnya. Pada saat itu, anak sapi menghisap jarinya dan dia pun menuntun anak aspi itu ke kandang. Anak sapi itu mengikuti anak petani itu dengan penuh kerelaan.

Ketiga anak laki-laki kota itu menggeleng-gelengkan kepala mereka penuh kekaguman. Mereka sadar bahwa mereka melakukan cara pendekatan yang sangat keliry. Mereka memaksakan kehendak mereka, tanpa menghiraukan apa yang diinginkan anak sapi itu. Putri petani berperan sebagai Malaikat: dia memberikan apa yang dikehendaki anak sapi dan anak sapi pun mengikuti keinginan sang putri petani dengan penuh kerelaan.

Pesan

Sikap dan perbuatan putri petani mengingatkan kita bahwa sentuhan cinta penuh kelembutan menjadi jalan utama menuju perubahan. Sentuhan cinta penuh kelembutan jemari putri petani di moncong sapi menuntun sapi itu menuju kandangnya. Sebaliknya, jalan dan cara kekerasan yang dilakukan oleh tiga anak laki-laki kota justru membuat anak sapi berkeras, berdiri kokoh dan bertahan di tempatnya.

 

 

Senjata Yesus: Cinta dan Kelembutan

Inilah jalan/cara Yesus mengubah hati dunia yang keras, menghancurkan hati manusia yang membatu penuh kecurigaan, kebencian, persaingan dan balas dendam. Yesus menghadapi hati dunia, terutama hati manusia dengan cinta-Nya yang penuh kelembutan, bukan dengan kekerasan senjata.

Beberapa hari sebelum disalibkan, Yesus memasuki kota suci dengan menunggang seekor keledai betina. Inilah gambaran jati diri Yesus yang sesungguhnya. Dia bukanlah Raja yang memiliki kekuasaan sehingga harus menunggangi kuda pelana. Dia juga tidak menggunakan kereta emas sebagai calon raja. Dia justru rendah hati, seperti seekor keledai yang taat seutuhnya kepada tuannya dan siap melayani tuannya.

Dia datang ke bumi fana ini tanpa senjata...

o   Dia memasuki kota suci tanpa senjata, walaupun tujuan kedatangan-Nya sangat jelas, yaitu menaklukkan kekuasaan yang menginjak-injak, bahkan membunuh dan membinasakan manusia.

o   Dia menghadapi, mengalahkan dan menghancurkan kekuasaan duniawi yang menginjak-injak, membunuh dan membinasakan manusia bukan dengan rudal, bom dan meriam, melainkan dengan Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih-Nya.

o   Dia menghadapi, mengalahkan dan menghancurkan kekuasaan duniawi dengan merangkul dan mengampuni semua pelakunya dengan Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih-Nya.

Inilah senjata kemuliaan Yesus untuk menghancurkan semua jenis kemuliaan palsu, kosong, hampa, tanpa makna yang selalu diperjuangkan manusia. Dia datang untuk menghentikan sistem paksaan dan kekerasan yang mewarnai relasi antarmanusia di sepanjang zaman. Kemuliaan-Nya ada dalam Cinta dan Belas Kasih-Nya yang merangkul dan mengampuni..

Kota Baru, Dunia Baru, Yerusalem Baru

Sejak minggu Palem dan selama Pekan Suci ini, kita melihat dan mengalami bagaimana drama kesombongan dan kearagonan manusia yang tampak dalam perjuangan untuk membangun menara Babel berhadapan dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan Yesus yang membangun kota untuk menampung anak-anak-Nya, yaitu Kota Baru - Dunia Baru yang sejak kekal tercipta oleh Bapa dalam diri Anak-Nya.

Dalam Perjanjian Lama, kota itu nyata dalam Bahtera (yang dibangun) Nuh untuk menyelamatkan keluarganya dari amukkan air bah. (Ibr 11:7) Karena imannya kepada Yahwe, Abraham membangun kemah dan dia bersama keluarganya tinggal di dalamnya sembari menantikan kota yang dibangun di atas landasan yang kokoh.

Kini, saatnya, Yesus Sang Raja harus memasuki Kota Yerusalem untuk membangun Kota Baru/Dunia Baru/Yerusalem Baru untuk menampung anak-anak Allah, tempat kediaman kekal bagi umat manusia bersama Allah dan sesamanya. Kota Baru yang dibangun Yesus dilandaskan pada Hidup-Nya, yaitu Hidup Allah dalam Diri-Nya, yaitu cinta, kerendahan hati dan kelemah-lembutan, bukan ambisi, kebencian, kekerasan dan balas dendam. Kota Baru/Dunia Baru/Yerusalem Baru yang dibangun Yesus adalah Hati. Karena landasan Kota Kekal adalah Allah yang Berdiam di Hati, maka iman kepada Allah dan ikatan cinta antarpribadi yang beriman dengan sesamanya menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Iman menegaskan kekokohan relasi dan komunikasi cinta antara Allah dengan pribadi yang beriman dan ikatan cinta di antara pribadi beriman dengan sesama manusia.

Iman dan cinta, kasih sayang dan kelembutan tidak hanya memberikan keteguhan batin bagi pribadi-pribadi yang beriman, tetapi juga memperjelas dan mempertegas relasi cinta antara manusia dengan Allah dan pribadi yang beriman dengan sesamanya. Dalam ikatan ini, Allah menjadi Jaminan dan Andalan Tunggal. Dia adalah Pemilik dan Pemberi Kota yang Kekal bagi manusia yang beriman kepada-Nya.

Usaha untuk membangun Kota Baru yang Kekal menuntut setiap pribadi beriman untuk melandaskan dan mengakarkan Kota Baru itu di atas Fondasi Imannya dan membuahkan imannya dalam tindakan cinta. Iman lahir dari pengalaman perjumpaan awal dengan cinta Allah. Cinta akan memperjelas dan meneguhkan makna iman, yaitu menumbuhkan kebaikan hidup serta mengarahkan pribadi beriman kepada kepenuhan hidup. Cinta akan meningkatkan dan memperkaya relasi antara manusia dengan Allah dan sesama serta memperkaya kehidupan bersama. Tanpa cinta, relasi antara manusia dengan Allah dan sesama mustahil terbina. Iman yang berbuah dalam tindakan cinta akan memberdayakan pribadi yang beriman untuk mengembangkan relasi antarpribadi manusia serta mengarahkannya menuju tujuan akhir yang membahagiakan, yaitu Allah sendiri. Iman yang dinyatakan dalam aksi pelayanan demi kebaikan bersama hanya mungkin dimiliki jika pribadi beriman memiliki cinta.

Iman membuat kita menghargai arsitektur dari hubungan antarpribadi manusia dan manusia dengan Allah sebab iman serentak menjadi landasan utama dan tujuan akhir dari semua perjalanan hidup manusia dalam Allah, dalam kasih-Nya, dan dengan demikian memperjelas seni bangunan itu. Iman yang benar adalah iman yang dinyatakan dalam aksi pelayanan demi kebaikan bersama. Terang iman tidak hanya menerangi bagian dalam Gereja, tidak hanya melayani kita untuk membangun kota yang kekal di akhirat, tetapi memberdayakan kita untuk membangun masyarakat sedemikian rupa supaya mampu melakukan perjalanan menuju masa depan yang berpengharapan.

Perarakkan Palma serentak melambangkan dan menyatakan bahwa misteri kejahatan dikalahkan oleh misteri cinta, kerahiman dan kasihan Allah dalam diri Putra-Nya. Perarakan Palma menyatakan bahwa hanya orang yang hatinya penuh cinta, kerahiman dan belas kasih; lemah lembut dan rendah hati yang akan memiliki bumi ini, yaitu Bumi Baru/Kota Baru/Yerusalem Baru. Persoalannya, apakah kita melapangkan pakaian hati kita untuk dilawati dan menjadi Takhta Kediaman bagi Sang Raja Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih?

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih....

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 


 

Keuskupan Sibolga merayakan Misa Krisma atau pembaharuan janji imamat di hari raya “Maria menerima kabar sukacita”. Pada umumnya, Misa Krisma adalah perayaan ekaristi tahunan yang dipimpin langsung oleh Uskup dan dihadiri oleh seluruh para imam pada pekan suci. Pada tahun ini misa krisma dirayakan di Gereja Katedral Sibolga St. Theresia Lisieux. Sejak tanggal 24 -25 Maret diawali studi bersama dimana Bapa Uskup dan seluruh imam yang berkarya di Keuskupan Sibolga berkumpul sekaligus rekoleksi bersama dalam mempersiapkan diri untuk perayaan pembaharuan janji Imamat.  namun karena medan pastoral yang tidak memungkinkan setiap tahunnya diadakan seminggu sebelum tri hari Suci, dan perlu diketahui bahwa perayaan ini yang menandai persatuan gereja lokal. Di dalamnya, Bapa Uskup memberkati minyak suci (krisma, katekumen, orang sakit) dan para imam memperbarui janji imamat mereka untuk setia melayani. 

Setelah menjalani Hari Studi Imam dan rekoleksi dengan tema “Dalam Kristuslah Kedekatan dengan Uskup, Umat Allah dan Sesama mendapat arti”, tema ini menjadi bahan permenungan para imam sebelum merayaakan misa Krisma atau pembaharuan janji imamat. Perayaan ekaristi dipimpin langsung oleh Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga di Gereja Katedral St. Thaeresia Lisieux Sibolga.

Misa ini umumnya dirayakan di Gereja Katedral dan menjadi momen di mana para imam di keuskupan berkumpul secara utuh. Misa Krisma adalah perayaan Ekaristi khusus dalam Gereja Katolik di mana Uskup memberkati minyak-minyak suci dan para imam memperbarui janji setianya kepada Tuhan dan Gereja.  Dalam homili Bapa Uskup ada tiga poin yang perlu direnungkan dalam perayaan ini:

o   Pembaharuan Janji Imamat: diharapkan bahwa para imam bersedia dan siap memperbaharui janji setia pada saat tahbisan mereka di hadapan Uskup dan umat. Ini menunjukkan komitmen ulang untuk melayani Allah dan Gereja, baik yang berkarya di paroki, lembaga dan komisi.

o   Perayaan Kesatuan: Misa ini menekankan kesatuan para imam dengan Uskup sebagai gembala utama di keuskupan. Seperti dalam renungan rekoleksi yang dibawakan oleh P. Guido Situmorang OFMCap., adanya kedekatan spiritual bersama uskupnya, ".... dan saya sebagai Uskupmu juga akan berusaha mendekatkan diri, jadi sahabat bagi para imam imamku yang berkarya di keuskupan kita ini, agar tercapainya visi misi Keuskupan yang telah kita rancang pada Sinode ke 3 lalu."

o   Tujuan: Untuk memperteguh semangat pelayanan para imam, terutama di saat menghadapi tantangan, serta mendoakan kesetiaan. "Saya mungkin sebagai uskup juga memiliki kekurangan, kelalaian atau tidak mendengarkan satu persatu imamku, dari Altar ini saya mohon maaf, semoga kita semakin mampu untuk bekerja sama dalam pengembangan spirit imamat kita dan saling menguatkan satu sama lain."

1. Pemberkatan Minyak-Minyak Suci

    Uskup memberkati tiga minyak yang akan digunakan sepanjang tahun untuk sakramen-sakramen, yaitu Minyak Krisma (Sanctum Chrisma), Minyak Katekumen (Oleum Catechumenorum), dan Minyak Orang Sakit (Oleum Infirmorum). Minyak-minyak inilah yang nanti dipakai untuk melayani seluruh umat dalam sakramen-sakramen sepanjang tahun, menandakan bahwa rahmat Tuhan selalu baru dan tak pernah habis mengalir bagi kita semua. Uskup memberkati tiga jenis minyak yang akan digunakan di seluruh keuskupan selama satu tahun ke depan: 

  • §Minyak Krisma (Sacrum Chrisma): Digunakan untuk Sakramen Baptis, Sakramen Krisma (Penguatan), dan Penahbisan Imam/Uskup.
  • §Minyak Katekumen (Oleum Catechumenorum): Digunakan untuk mengurapi mereka yang sedang mempersiapkan diri menerima Sakramen Baptis.
  • § nyak Orang Sakit (Oleum Infirmorum): Digunakan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit untuk memberikan kekuatan rohani dan jasmani. 


2.  Pembaharuan Janji Imamat 


    Dalam bagian ini, para imam yang hadir di hadapan Uskup menyatakan kembali kesediaan mereka untuk menjalankan tugas suci yang mereka terima saat penahbisan. Seperti dalam khotbah bapa Uskup "Bagi para imam, Misa Krisma adalah waktu bermenung akan kasih Tuhan. Di hadapan Uskup dan umat, kita kembali mengucapkan Pembaruan Janji Imamat. Bayangkan para imam yang selama setahun ini mungkin lelah dalam pelayanan karena menghadapi berbagai persoalan umat, hingga pergulatan pribadi, berdiri bersama untuk menjawab kembali ke-siapsedia-an dengan suara lantang".

    Ritus Ini bukan sekadar pengulangan yang terjadi tiap tahun, tapi saat bagi para imam untuk mengingat kembali alasan pertama mereka menjawab panggilan Tuhan. Di tengah tantangan zaman yang makin berat, para imam butuh berhenti sejenak untuk menata ulang prioritas hati dan memurnikan kembali motivasi pelayanan mereka.

Sahabat Komsos yang terkasih, Misa Krisma dianggap sebagai salah satu ungkapan paling nyata dari persekutuan seluruh anggota Gereja di bawah pimpinan seorang Uskup. Melihat para imam berkumpul bukan berarti mereka eksklusif, justru sebaliknya. Momen ini mengingatkan kita bahwa imam dan umat adalah satu tubuh. Para imam berjanji untuk setia melayani, dan kita sebagai umat diajak untuk terus mendukung serta mendoakan mereka. Tanpa doa umat, beban pelayanan mereka tentu akan terasa jauh lebih berat. Pembaruan janji ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa imam juga manusia yang butuh penguatan.

Misa Krisma adalah simbol kesatuan bahwa seorang imam tidak berjalan sendirian, dan umat pun tidak dibiarkan berjalan tanpa gembala. Melalui Misa Krisma, kita diingatkan bahwa menjadi pengikut Kristus adalah tentang terus-menerus membarui diri dan saling menguatkan. Paskah pun jadi lebih bermakna karena kita menyambutnya dengan hati yang sudah diperbarui, sembari terus mendoakan para gembala kita agar tetap setia dan penuh sukacita dalam melayani.

 

 






 

Rekoleksi Menyongsong Misa Krisma dan 

Pembukaan Yubileum 800 Tahun wafat St. Fransiskus dari Asisi

Rekoleksi menyongsong misa krisma pembaharuan janji imamat dan pembukaan yubileum 800 tahun wafatnya St, Fransiskus. Rekoleksi ini dilaksanakan di aula sekola Katolik Sibolga, selasa 24 maret sampai rabu 25 maret 2026. Rekoleksi ini dipimpin oleh P. Guido Situmorang OFMCap dengan Thema “Dalam Kristuslah Kedekatan dengan Uskup, Umat Allah dan Sesama Imam untuk mendapat Arti Kehidupan Sejati”. Hantaran di pembukaan dari  P. Guido Situmorang menegaskan bahwa dalam rekoleksi ini diharapkan para imam nantinya setelah pembaharuan janji imamat mampu merefleksikan kedekatan diri dengan Tuhan melalui sikap membangun relasi dengan Uskup, Umat Allah dan sesama imam.

Perlu disadari bahwa kedekatan dengan Tuhan menjadi dasar panggilan sejati dan mampu menghadirkan panggilan Kristus yang sejati. Pastor Guido menegaskan bahwa dalam khotbah Paus Leo XIV menekankan sebelum melayani, imam harus menjadi murid yang setia. Kehidupan imam harus berpusat pada doa dan relasi nyata dengan Kristus. Oleh karena dalam permenungan itu, P. Guido mengatakan pentingnya kedekatan dengan Uskup dimana Imam dipanggil untuk membangun kesatuan dengan Uskup sebagai pemimpin gereja lokal, berjalan bersama dalam kasih Allah, dan membangun komunitas yang nyata.

Poin kedua dalam rekoleksi, pentingnya juga kedekatan dengan sesama imam baik melalui persaudaraan dan komunitas. Poin ini mengajak para imam untuk hidup sebagai sahabat dan saudara, bukan saingan. Diharapkan refleksi ini mendorong adanya fraternitas imamat untuk melawan isolasi dan kesepian imam, serta saling mendukung.

Poin ketiga P. Guido mengajak para imam untuk membangun kedekatan dengan umat Allah khususnya melalui pelayanan pastoral. Memang secara refletif kehadiran seorang Imam berasal dari umat dan diutus untuk umat. Rekoleksi ini menekankan perlunya menjadi gembala yang berbau domba, melayani umat dengan tulus, serta mendengarkan kebutuhan mereka tanpa mengisolasi diri. Para imam yang hadir diajak agar sikap atau tindakan kedekatan ini sendiri sebagai gaya hidup imam yang real, yaitu kedekatan dengan Tuhan, Uskup, sesama imam, dan umat Allah

Sahabat sahabat Komsos yang terkasih, thema rekoleksi ini menekankan bahwa identitas seorang imam sangat bergantung pada kesatuannya dengan Kristus dan pelayanannya di tengah umat. Rekoleksi ini menegaskan bahwa menjadi sahabat Kristus berarti hidup sebagai saudara di antara para imam dan uskup. Imam harus merasakan ke-bapa-an, persaudaraan, dan persahabatan dari uskup. Uskup dan imam diharapkan untuk saling dekat agar misi besar Gereja dapat dilaksanakan bersama-sama.

Persaudaraan yang tulus di antara para imam adalah fondasi untuk membangun komunitas yang hidup. Imam diminta untuk berbagi beban dan kegembiraan pelayanan, serta menghindari isolasi diri yang dapat melemahkan semangat panggilan. Imam dipanggil untuk melayani umat yang nyata, bukan sekadar konsep ideal, dengan kesaksian hidup yang kredibel. Karunia imamat bukanlah hak istimewa, melainkan tanggung jawab untuk melayani umat Allah dengan kasih yang murah hati seperti kasih Bapa. Imam dipanggil untuk membangun kembali kepercayaan dalam Gereja melalui rekonsiliasi dan kehadiran yang transparan di tengah masyarakat. Imam diingatkan bahwa tugas mereka adalah mewartakan Sabda Tuhan dan seluruh kedekatan ini berakar pada kedekatan dengan Tuhan melalui doa dan Ekaristi, yang menjadi energi bagi pelayanan gerejawi dan pengembangan Pastoral.
























 


SOMA

    Sahabat-sahabat Komsos yang terkasih, Hari ini, 22 Maret 2026, telah dilaksanakan Misa perutusan bagi Animator-animatris SEKAMI Keuskupan Sibolga dekanat Tapanuli di paroki St. Yohanes Penginjil Pinangsori. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh P. Bartolomeus Sihite, Pr. Vikep Pastoralis. 

    Sebelum misa perutusan, telah dilaksanakan  pelatihan SOMA (school of Missionary Animators) lanjutan selama 2 hari penuh  oleh pendamping KMKI KWI. Melalui pelatihan SOMA lanjutan ini, animator-animatris diharapkan siap untuk bermisi di paroki masing- masing mendampingi SEKAMI. Terima kasih kepada sembilan pastor paroki di dekanat Tapanuli, yang telah mengutus animator-animatrisnya.

Apa Itu SOMA?

SOMA (School of Missionary Animators) dalam Gereja Katolik adalah program kaderisasi intensif untuk membekali pendamping remaja (animator/animatris) SEKAMI (Serikat Kepausan Anak Misioner) agar mampu menjadi rasul muda pembawa injil. SOMA bertujuan membentuk jiwa misioner melalui pembekalan rohani, kreativitas, dan metode pastoral. 



Poin Penting SOMA:

Tujuan: Memperkuat kapasitas pendamping dalam mendampingi anak dan remaja misioner (SEKAMI).

Target Peserta: Remaja (biasanya usia SMP-SMA) dan orang muda yang ingin menjadi pendamping SEKAMI.

Tahapan Program: SOMA sering dibagi menjadi beberapa tahap, mulai dari menemukan kebanggaan sebagai remaja Katolik (SOMA 1), hingga penugasan nyata atau perutusan (SOMA 3). 

Materi Pembekalan: Meliputi cakrawala Karya Misi Kepausan, spiritualitas misioner, kreativitas mendampingi anak (gerak, lagu, permainan), dan pastoral Kitab Suci.

Fokus: Menghantar anak/remaja kepada Yesus dan menghantar Yesus kepada anak/remaja. Program ini sering diselenggarakan oleh Komisi Karya Misioner tingkat Keuskupan di Indonesia. (Sumber : KKI Keuskupan Semarang)

 



Minggu Pra-Paskah V, 22 Maret 2026

**

Lazarus dan Kita

Yehezkiel 37:12-14

Mazmur 130:1.2.4ab.4c.6.7.8

Roma 8:8-11

Yohanes 11:1-45 atau

Yohanes 11,3.17.20-27.33b-45

***********************************

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menghadiri dua Perayaan Ulang Tahun. Pertama, Perayaan Ulang Tahun seorang bocah kecil berusia dua tahun. Karena bocah tersebut merupakan anak tunggal, maka Ulang Tahunnya dirayakan semeriah mungkin. Untuk memeriahkan acara tersebut, maka keluarga mengundang sekelompok pelawak dan pemain sulap. Lagu  “Panjang Umurnya” bergemah dengan penuh kegirangan diiringi tempik sorak yang memekakkan telinga.

Kedua, Perayaan Ulang Tahun seorang kenalan yang sudah berbaring lemah di ranjang tidur karena didera salit komplikasi yang sudah berada di ambang batas. Tim medis sudah menegaskan sikap mereka bahwa hanya menunggu hitungan waktu kenalan itu akan meninggalkan bumi fana ini untuk selamanya. Untuk itu, semua sanak keluarga ingin merayakan Hari Ulang Tahunnya semeriah mungkin. Mereka mengundang sahabat-kenalan terdekat untuk menghadiri dan meneguhkan kenalan yang sakit itu di saat dia bergulat dengan maut.

Tatkala lilin ditiup dan lagu Selamat Ulang Tahun digemakan, kenalan yang berbaring lemah di ranjang sakitnya berkata dengan nada sayu-memilukan: “Jangan doakan agar saya panjang umur ya ... Saya senang kalau Tuhan memanggil saya dalam waktu singkat ini...”

Mendengar kata-kata tersebut, kami semua terdiam, heran dan kaget. Suasana menjadi cair  ketika saya mulai memimpin doa. Dalam doa itu, saya ungkapkan rasa syukur kami karena masih diperkenankan untuk berkumpul, berbagi rasa dan derita dalam doa serta menyerahkan kenalan yang mederita itu ke dalam penyelenggaraan kasih Allah.

Ternyata pujian “Panjang Umur” yang senantiasa didengungkan tatkala Ulang Tahun dirayakan dapat diterima dan disikapi secara berbeda-beda. Pujian “Panjang Umur” serentak diterima sebagai sebuah harapan dan beban bahwa hidup tidak selamanya menyenangkan dan tidak selamanya berjalan seperti yang diharapkan.

************************

Dalam kasus terakhir ini, dambaan terdalam dari kenalan yang terbaring lemah diranjang sakitnya itu adalah Tuhan bergegas memanggilnya, entah karena beban derita yang tidak tertanggungkan, maupun karena tugasnya sudah dituntaskannya secara purna. Persoalannya, sungguhkah dambaan hati kenalan yang sakit komplikasi ini merasa heran dan merasa sayang karena dia sepertinya tidak mensyukuri karunia kehidupan yang sungguh bernilai dan berharga di dalam dirinya tatkala sanak-keluarganya bersedia mengeluarkan biaya seberapa pun saja, asalkan bisa memperpanjang usianya, walaupun  sesaat saja? Apa gunanya riset, penyelidikan dibidang kedokteran dan medis apabila diperuntukkan “menahan” hidup selama dan sepanjang mungkin? Tim medis berjuang untuk mencari obat anti AIDS, karena dianggap sebagai penyakit misterius yang sanggup merenggut kehidupan secara kejam dan menyakitkan... Apa gunanya?

Pertanyaan ini serentak menjadi alasan bagi Marta dan Maria mengirimkan utusan untuk menyampaikan berita penting kepada Yesus: “Tuhan, dia yang engkau kasihi, sakit.” Dalam berita tersebut terbersit harapan kuat dalan diri Marta dan Maria agar Yesus segera datang untuk menyembukan Lazarus, saudara mereka.

Keterlambatan Yesus untuk mengunjungi Lazarus yang sakit dan akhirnya mati menjadi alasan bagi Marta untuk “mempersalahkan” Yesus. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”. Marta merasa kesal karena Yesus tidak bersegera datang untuk memperpanjang kehidupan Lazarus, saudaranya.

Namun dengan kuat kuasa dan kewibaan-Nya, Yesus menegaskan bahwa penyakit, penderitaan dan kematian bukanlah akhir segalanya. Kematian bukanlah kegagalan untuk memperpanjang kehidupan yang tidak selamanya membahagiakan manusia.

Bagi Yesus, kematian diidentikan dengan “tertidur” sehingga bisa dibangunkan. Kematian yang membawa maut bersengat positif sebab akan menyatakan kemuliaan Allah... berkat penyakit yang membawa maut, Putera Allah akan dimuliakan.

Dalam konteks ini bisa dipahami, “Mengapa kenalan yang sakit sekarat itu” memohon agar Allah bersegera memanggilnya: Mungkin karena dia tidak sanggup lagi menahan deritanya atau mungkin dia tidak tega melihat sanak-keluarga dan handai-taulannya bersusah karenanya. Mungkin juga dia menganggap bahwa kematian bukanlah akhir, bukanlah sesuatu yang harus disesali. Gereja mengajarkan bahwa sesudah kematian ada kehidupan, entah bagaimana wujudnya, namun diyakini ada sesuatu yang baru, sama sekali lain dan bermutu sehingga didambakan oleh semua insan yang beriman.

Dengan cara yang khas, Yesus melukiskan kehidupan kekal dengan sebuah perjamuan: semua undangan terpilih hadir. Allah sebagai Bapa, Tuan Rumah yang Baik Hati hadir untuk menjamu semua undangan secara berkelimpahan. Kehidupan kelak juga diibaratkan dengan kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barang atau dombanya yang hilang; kegembiraan seorang bapak yang berjumpa kembali dengan anaknya yang sudah sekian lama meninggalkannya.

Kegembiraan Marta dan Maria yang masih boleh merasakan kehadiran Lazarus saudara mereka merupakan kegembiraan yang sangat intens sebab tidak terikat oleh waktu dan tempat. Namun, tidak dijelaskan bagaimana reaksi Lazarus tatkala diperkenankan untuk hidup kembali.

o   Apakah dia merasa senang, karena bisa kembali ke dalam kehidupan duniawi; berkumpul dengan sanak-keluarganya?

o   Apakah dia merasa gembira karena masih diperkenankan untuk menghirup udara segar kehidupan?

o   Atau mungkinkah, dia merasa sedih, susah, kecewa karena impiannya untuk mengalami kebahagiaan hidup yang sudah akan dialaminya harus ditunda hingga waktu yang ditentukan baginya tiba?

o   Berapa lama lagikah saudara-saudaranya harus mendoakannya agar dia panjang umur di setiap Ulang Tahunnya, sebelum akhirnya dia meninggalkan bumi fana ini secara definitif?

Pertanyaan ini sangat manusiawi, namun sulit terjawab. Bagi Lazarus, Maria, Marta dan orang-orang sezamannya “kebangkitan dari antara orang mati” sama sekali tidak jelas. Namun, Yesus berusaha membuka wawasan mereka melalui peristiwa Lazarus: Kebangkitan terjadi sesudah orang meninggalkan hidup ini; kematian itu terjadi apabila Allah dalam diri Kristus berkehendak apakah seseorang dibangkitkan atau tidak dibangkitkan sesudah mengalami kematian hidup? Kebangkitan berkaitan erat dengan hidup, hidup kembali, tetapi hidup secara baru.

Peristiwa Lazarus merupakan kiasan mengenai apa yang terjadi dengan diri Yesus dan apa yang terjadi dengan semua orang yang percaya kepada-Nya. Namun, intinya ditemukan dalam Sabda Yesus bahwa apabila kita percaya kepada-Nya, mendengarkan Sabda-Nya dan melakukan pekerjaan-Nya, kita akan hidup, walaupun sudah mati. Melalui Sabda-Nya ini, Yesus menegaskan bahwa Dialah Jaminan Kebangkitan kita. Kuncinya, kita harus percaya kepada-Nya dan hidup kita harus terhubung dengan-Nya.. Bagaimana dengan kita dan iman kita kepada-Nya?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Dio Ti Benedica....

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 

 

 

KRISIS HATI MANUSIA MODERN: 

Merefleksikan "Dilexit Nos" No. 9-14, Dalam Kacamata Visi Keuskupan Sibolga.

(Rekoleksi Kaum Berjubah Wilayah Dekanat Kepulauan Nias)


Selasa, 17 Maret 2026, Para Pastor, Suster, Frater dan Bruder yang berkarya di Dekenat Kepulauan Nias Keuskupan Sibolga berkumpul di Paroki Roh Kudus Lahusa Gomo, Nias Selatan untuk mengikuti Rekoleksi bersama menjelang masa Paskah. Rekoleksi ini dipimpin oleh Romo Sixtus Zalukhu, Pr, Pastor Paroki Lahusa Gomo dengan tema: KRISIS HATI MANUSIA MODERN: Merefleksikan "Dilexit Nos" No. 9-14, Dalam Kacamata Visi Keuskupan Sibolga.

Turut hadir dalam Rekoleksi ini adalah Pater Purwo, OSC, Vikjend Keuskupan Sibolga dan para pengurus Dekenat kepulauan Nias dengan jumlah peserta yang hadir adalah 160 orang. 

Dalam renungannya, pastor Sixtus mengajak para para Pastor, Suster, Frater dan Bruder tentang pentingnya menemukan kembali Cinta Hati Kudus Yesus di dalam tugas dan pelayanan di tengah dunia yang semakin dangkal akibat krisis. Dunia saat ini semacam kehilangan "hati" dan terjebak di dalam kedangkalan, konsumerisme dan peperangan. Di tengah krisis dunia yang semakin marak seperti itu, para Pastor, Frater, Suster dan Bruder diajak untuk sejenak kembali ke pusat iman, yaitu Hati Kudus Yesus yang merupakan simbol Kasih Allah sebagai kekuatan utama yang membawa harapan, yang bisa menyembuhkan perpecahan dan bisa menggerakan umat yang dilayani untuk membangun dunia  yang lebih manusiawi. 

Acara rekoleksi ini kemudian dilanjutkan dengan ibadat tobat dan penerimaan sakramen tobat bagi semua peserta rekoleksi yang dipimpin oleh Pastor Kanisius Jeramu, Pr Pastor Vikaris Paroki Roh Kudus Lahusa Gomo. Setelah itu dilanjutkan dengan perayaan ekaristi bersama yang dipimpin oleh Pater Purwo OSC, Vikjend Keuskupan Sibolga. Acara rekoleksi ini berpuncak pada acara jamuan kasih, makan siang bersama yang disiapkan oleh Para Pastor, Frater, Suster yang berkarya di paroki Lahusa Gomo dan para pengurus inti gereja yang berada di pusat paroki.







MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget