Rekoleksi Menyongsong Misa Krisma dan
Pembukaan Yubileum 800 Tahun wafat St. Fransiskus dari Asisi
Rekoleksi
menyongsong misa krisma pembaharuan janji imamat dan pembukaan yubileum 800
tahun wafatnya St, Fransiskus. Rekoleksi ini dilaksanakan di aula sekola Katolik
Sibolga, selasa 24 maret sampai rabu 25 maret 2026. Rekoleksi ini dipimpin oleh
P. Guido Situmorang OFMCap dengan Thema “Dalam Kristuslah Kedekatan dengan
Uskup, Umat Allah dan Sesama Imam untuk mendapat Arti Kehidupan Sejati”. Hantaran
di pembukaan dari P. Guido Situmorang menegaskan
bahwa dalam rekoleksi ini diharapkan para imam nantinya setelah pembaharuan
janji imamat mampu merefleksikan kedekatan diri dengan Tuhan melalui sikap
membangun relasi dengan Uskup, Umat Allah dan sesama imam.
Perlu disadari
bahwa kedekatan dengan Tuhan menjadi dasar panggilan sejati dan mampu
menghadirkan panggilan Kristus yang sejati. Pastor Guido menegaskan bahwa dalam
khotbah Paus Leo XIV menekankan sebelum melayani, imam harus menjadi murid yang
setia. Kehidupan imam harus berpusat pada doa dan relasi nyata dengan Kristus. Oleh
karena dalam permenungan itu, P. Guido mengatakan pentingnya kedekatan dengan
Uskup dimana Imam dipanggil untuk membangun kesatuan dengan Uskup sebagai
pemimpin gereja lokal, berjalan bersama dalam kasih Allah, dan membangun
komunitas yang nyata.
Poin kedua
dalam rekoleksi, pentingnya juga kedekatan dengan sesama imam baik melalui
persaudaraan dan komunitas. Poin ini mengajak para imam untuk hidup sebagai
sahabat dan saudara, bukan saingan. Diharapkan refleksi ini mendorong adanya fraternitas
imamat untuk melawan isolasi dan kesepian imam, serta saling mendukung.
Poin ketiga P.
Guido mengajak para imam untuk membangun kedekatan dengan umat Allah khususnya
melalui pelayanan pastoral. Memang secara refletif kehadiran seorang Imam
berasal dari umat dan diutus untuk umat. Rekoleksi ini menekankan perlunya
menjadi gembala yang berbau domba, melayani umat dengan tulus, serta
mendengarkan kebutuhan mereka tanpa mengisolasi diri. Para imam yang hadir
diajak agar sikap atau tindakan kedekatan ini sendiri sebagai gaya hidup imam
yang real, yaitu kedekatan dengan Tuhan, Uskup, sesama imam, dan umat Allah
Sahabat
sahabat Komsos yang terkasih, thema rekoleksi ini menekankan bahwa identitas
seorang imam sangat bergantung pada kesatuannya dengan Kristus dan pelayanannya
di tengah umat. Rekoleksi ini menegaskan bahwa menjadi sahabat Kristus berarti
hidup sebagai saudara di antara para imam dan uskup. Imam harus merasakan ke-bapa-an,
persaudaraan, dan persahabatan dari uskup. Uskup dan imam diharapkan untuk
saling dekat agar misi besar Gereja dapat dilaksanakan bersama-sama.
Persaudaraan
yang tulus di antara para imam adalah fondasi untuk membangun komunitas yang
hidup. Imam diminta untuk berbagi beban dan kegembiraan pelayanan, serta
menghindari isolasi diri yang dapat melemahkan semangat panggilan. Imam
dipanggil untuk melayani umat yang nyata, bukan sekadar konsep ideal, dengan kesaksian
hidup yang kredibel. Karunia imamat bukanlah hak istimewa, melainkan tanggung
jawab untuk melayani umat Allah dengan kasih yang murah hati seperti kasih
Bapa. Imam dipanggil untuk membangun kembali kepercayaan dalam Gereja melalui
rekonsiliasi dan kehadiran yang transparan di tengah masyarakat. Imam
diingatkan bahwa tugas mereka adalah mewartakan Sabda Tuhan dan seluruh
kedekatan ini berakar pada kedekatan dengan Tuhan melalui doa dan Ekaristi,
yang menjadi energi bagi pelayanan gerejawi dan pengembangan Pastoral.
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)






.jpeg)
Posting Komentar
Terima Kasih Atas Partisipasi Anda dalam kolom komentar.